disuduthari header

Tahun Kelima

Posting Komentar
senandika tahun kelima

Hai, bagaimana hari-harimu? Masih tetapkah ingin melaju? Terkait cinta dan karya, aku memergoki perempuan di jauh sana yang memilih menyerah. Uniknya, Tuhan tidak membersamai pilihannya itu. Ia justru dihindarkan dari petaka yang lebih besar.

Tepat setelah melompat dari ketinggian tujuh meter, hampir tak ada siapa pun yang percaya bahwa perempuan ini masih bernyawa. Keajaiban itu nyata, meski ada sisa-sisa celaka yang membayanginya. Bertahun-tahun lamanya ia harus rela hidup di satu tempat: berbaring, bahkan duduk pun banyak yang mengatakan mustahil.

Namun, orang-orang terdekatnya—mereka yang mencintainya—tetap hadir di titik terberat itu. Hingga pada suatu waktu, gairah hidup perempuan ini dibangkitkan kembali oleh cintanya.
Ironis sekaligus magis, ia bukan terpantik mencintai seseorang yang bersedia membopongnya, tetapi justru bangkit oleh kecintaannya pada dunia tari.
Dari tempat tidur, perempuan ini mulai menggerakkan jemarinya, meliukkan tubuhnya, hingga perlahan ia mampu duduk, berdiri, bahkan berjalan.

Murid-murid tarinya berterima kasih karena telah diajarkan beragam koreografi yang membantu mereka tampil di panggung-panggung besar. Sementara itu, perempuan yang menjadi guru ini menemukan kembali alasan mengapa ia harus tetap hidup, mengapa hidup masih layak dijalani.

Bagaimana dengan kita? Bagaimana nasib cinta kita? Bagaimana kemurnian cinta yang ada?

Dalam sebuah kutipan di buku Cerita Pendek untuk Cinta yang Panjang, Puthut EA :

quotes di buku cerita pendek untuk cinta yang panjang

“Dan tahukah kamu? Pilihanku menerima pinangannya tak lain karena ekspektasi dan imajinasiku soal cinta tempo hari.

Lima tahun lalu, seorang perempuan yang baru saja meninggalkan usia belasan berani-beraninya memasuki zona terlarang. Ia bermain api romansa ala FTV. Ia tak tahu banyak soal cinta yang utamanya adalah ‘memberi’. Yang ia tahu baru sebatas kesediaan bertemu di tengah untuk saling bertumpu satu sama lain.

Nyatanya, wujud asli cinta lawan jenis baru ia pahami semenjak menjalani pernikahan. Dan itu semua mengubah bagaimana ia memandang dunia.

Seperti album terbaru Nadin Amizah, ‘Tentang Dunia, Cinta, dan Kotornya.’”


Titik-titik di Lembar Kita

Prolog

Kamu paling tidak suka dengan catatan-catatan seperti ini. Jika tidak kubacakan langsung, tidak mungkin kamu mau tahu isinya. Bahkan saat kubacakan pun, hampir tak ada respons balik tentang apa yang tertulis di sana.

Kau tahu? tulisan macam ini adalah kejujuranku sekaligus keidealanku. Tak jarang juga menjadi sisi terliarku yang amat mencecarmu.

Bisa kubayangkan sendiri bagaimana rasanya berada di posisimu: stres mendengar beragam ketidaksukaanku terhadap sikapmu, yang sebagian besar berakar dari egoisme seorang perempuan.

Maka sudah kupastikan jelas, tulisan seperti ini adalah penyelamatku—sesuatu yang menstabilkan diriku dan seluruh emosi yang menghampiri, yang kata orang, menulis sebagai terapi.

Sesuatu yang tak bisa kamu terima secara langsung. Sesuatu yang ingin kusampaikan kepadamu, tetapi kamu tak kuasa mendengar sisi yang ini.

Kamu paling tidak suka rintihan yang dekat dengan rasa rendah diri dan pesimisme. Namun, kurasa kamu belum tahu, soal kesuluruhannya, soal kesimpulannya, soal ruh yang identik dengan nafsul mutmainnah.


Titik Tengah VS Titik Ujung

Aku sangat percaya diri dengan konsep cintaku yang kunilai paling hebat: memiliki titik tengah di antara duniaku dan duniamu. Tempat kita mencurahkan seluruh rasa muak di sela membangun impian di dunia masing-masing.
Sudah sejak awal kupastikan bahwa kita berasal dari dua dunia yang berbeda. Namun, aku lupa bahwa perempuan setelah menikah akan menghadapi fase demi fase, peran demi peran—hal-hal fitrah yang tak bisa diwakilkan. Mengandung-menyusui-melahirkan, memangku generasi.

Hingga, hal ini turut menamparku. Bukannya kita bertemu di tengah, justru aku yang terseret ke duniamu. Namun, elok kamu, hal ini tak kau masalahkan, justru kamu melihat pernikahan bak titik ujung-titik memojok-titik pulang, di mana semuanya tak penting kecuali memadu 'tenang'.

Titik tengah itu tak ada apa-apanya di banding titik ujung ini. Dan konsep cinta dalam lembaga pernikahan ini, aku mau ikuti. Titik ujung asri dari seluruh perjamuan duniawi.

Titik Balik 

Perbedaan laki-laki dan perempuan dalam tahun-tahun awal pernikahan, membuatmu melaju dengan kecepatan cahaya, sementara aku merasa semua hanyalah jeda demi jeda.
Saat kumembuka mata, kita ada di tahun kelima. Keingintahuanku menorobos lapisan demi lapisan kerancuan hubungan, terpangkas pada satu tanya besar, apa tujuan pernikahan?

Tujuan Menikah, Lebih dari 'Sah'

Sebelum aku membandingkannya dengan jawabanku di masa lalu yang tadi. Kuinterogasi dirimu di ruang santai kita. Dan dari percakapan itu, aku mulai menyadari: oh ternyata selama ini kita menuju ke sini. Dan mulai kutahu jawaban dari marah-marahmu, yang dulu-dulu.
Haha, lucunya, mengapa baru sekarang aku mempertanyakannya?


Obrolan renyah soal arah 😊😙😙😙

👰‍♂️: "Tujuan Ayang menikah, apa?"

🤵: "Tujuan menikah? Satu, sebenarnya bahwa berpasangan itu bahagia. Punya tempat kembali, punya tempat ngobrol, gitu."

👰‍♂️: "Berpasangan itu bahagia?" He-eh.

🤵: Tapi setelah setelah merasakan berpasangan itu bahagia itu, maka apa namanya? Berharaplah sebuah regenerasi. Gitu. Yang harus melanjutkan keyakinan, pemikiran, apa yang direncanakan dan dituju dalam hidup ini oleh kita, oleh Aba ini.

👰‍♂️: "Tapi bener enggak, Ayang ngerasanya bahagia gak? Atau atau naik turun? Kadang bahagia, kadang enggak. Atau 'overall'bahagia kalau digabungkan bagus, banyak bahagianya?"

🤵: "Iya, kalau Aba itu, satu-satunya tempat kembali di mana pun Aba berada, bersama siapa pun Aba berada, ya pasangan itu. Ketika kembali, ada anak, ada istri. He-eh. Gitu. Kemudian hidupnya mereka tercukupi, terpenuhi, itu bahagia, gitu. Yang membuat apa namanya? Tidak bahagia itu ya karena tidak terpenuhi dan tidak tercukupi kehidupan aja. Jadi mumet. Nah, itu akan dirasakan oleh semua orang."

👰‍♂️: "Tapi manusia bahagia selama dia hidup emang bisa? Apakah di akhir doang bahagianya?"

🤵: "Ya bisa, selama sepanjang hidupnya."

👰‍♂️: "Bisa?"

🤵: "Ya bisalah. Terkadang orang itu kenapa tidak merasakan kebahagiaan dalam berumah tangga, di dalam berpasangan hidup, ya karena masih ada problem di salah satu pasangannya. Kalau kalau udah ada problem, ya itu sulit untuk bahagia. Jadi tidak ada benang merah."

👰‍♂️:  "Tidak ada benang merah?"

🤵: "Antara suami dan istri itu. Kalau sudah ada benang merah, lalu punya rencana, punya tujuan hidup, ya hidup cukup pun, gitu, hidup kecukupan kebutuhan pun ya itu sudah tidak akan terjadi problem. Gitu."

👰‍♂️: "He-em, kalau Ayang, sebelum menikah, kalau mengkategorikan diri Ayang, masuk yang Ayang? Hukum Ayang menikah pada waktu itu?

🤵: "Sudah sudah harus."

👰‍♂️: "Wajib?"

🤵: "Iya."

👰‍♂️: "Udah wajib? Kenapa?"

🤵: "Ya sudah harus ya karena ada dorongan syahwiyyah yang mendorong harus."

👰‍♂️: "Oh gitu?"

🤵: Iya, istriku tercinta, satu-satunyaaa."

(Suara tawa kecil dari perempuan)
(Aku bersikeras untuk tidak melanjut kata 'satunya-satunya' dengan 'saat ini', (satu-satunya saat ini))  💥

Pepatah China yang tengah kulihat rutin pada waktu bangun tidur. 😊😊😇😇

1. "Cari uang pakai fisik: jujur. Pakai otak: cerdik. Pakai uang : kejam."
2. "Tak ada satupun pria di dunia ini yang mencintaimu selamanya. Tapi selama kamu fokus perbaiki dirimu, pria baru akan terus berdatangan untuk mencintaimu. Berhenti pusing pria mencintaimu atau tidak. Pria itu pada dasarnya tak punya cinta. Pria itu seperti anak kecil. Yang dicari cuma kesenangan dan kasih Sayang keibuan tanpa syarat. Banyak wanita mati-matian tak paham: Bersembunyi di balik punggung pria tak bikin kamu aman. Sandaran terbaikmu bukanlah pria, melainkan emosi yang stabil dan kebebasan finansial (punya uang)!"


Beberapa kalimat Tiongkok yang mungkin “menampar”, tapi juga realistis:

“女人最大的底气,不是婚姻,而是自己赚钱的能力。”
“Kepercayaan diri terbesar perempuan bukanlah pernikahan, tetapi kemampuan menghasilkan uang sendiri.”

Lalu ini :

“靠山山会倒,靠人人会跑,靠自己最好。”
“Bersandar pada gunung, gunung bisa runtuh. Bersandar pada orang, orang bisa pergi. Bersandar pada diri sendiri adalah yang terbaik.”

Dan ini paling dekat :

“先谋生,再谋爱。”
“Pertama belajar bertahan hidup, baru mengejar cinta.”

.
.
.
PENUTUP

Ahahaha, pada intinya aku menyadari aku tengah beranjak dari kesadaran dan kemauan, menuju kemampuan. Aku sudah sadar dan mau, kini sadar dan mauku itu butuh bensin bernama "isi saku".

Menutup refleksi kali ini, kushare buku yang lagi hangat kubaca. Buku yang jadi oleh-oleh Abana dari bepergian. 🤭🫶

rekomendasi buku rumah tangga
Sekian untuk kali ini. Buku apa yang lagi kamu baca juga, nih? Salam berseri, sampai jumpa disuduthari~ 


disuduthari
📝 menulis hal-hal berbau romansa, psikologi, & pengembangan diri

Related Posts

Posting Komentar