Ada desir yang berbeda hari ini. Merefleksikan Hari Kartini. Perempuan bak dirayakan. Bukan soal parasnya, tapi peranannya.
Sejak terbit Keppres No. 108 Tahun 1964, yang juga mengangkat Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, tanggal 21 April resmi menjadi hari besar nasional tetapi bukan libur nasional.
Hari Kartini, selalu bisa memperbarui semangat berbangsa. Terutama untuk kaula muda dan kaum puan.
Soal inspirasi, soal emansipasi, soal siapa yang berhak atas selebrasi?
Najwa Shihab, dengan #catatannajwa nya pernah menggurat bait kisah tentang ini. Berikut tulisannya :
CATATAN NAJWA BELAJAR DARI KARTINI
Tulisan-tulisan Kartini nyaris tak dibaca lagi. Kehidupan Kartini jarang dipelajari dengan rinci. Inilah yang membuat Kartini menjadi semata kultus, tak ubahnya monumen yang hanya dielus-elus.
Terlalu lama kiprah Kartini dibikin sederhana, disalahpahami dengan karnaval sanggul dan kebaya. Padahal hayat Kartini begitu kaya dengan hikmah, tentang keberanian bersuara di tengah risiko yang berlimpah.
Tidak semua cita-cita Kartini terealisasi, ia mengalami pahitnya patriarki dan poligami. Hasrat bersekolah setinggi mungkin hanya menjadi angan, kandas oleh pahit dan kerasnya tekanan.
Tak mudah mendobrak berlapis-lapis tradisi lama, ia dikungkung tembok yang menyerupai penjara. Setidaknya ia bersuara menyatakan pikiran dengan pena, meletakkan pondasi perjuangan emansipasi wanita.
Kartini begitu merindukan kemerdekaan dan kesetaraan, mimpi istimewa yang dirindukan perempuan dari segala bangsa.
Istilah "Kartini Masa Kini"
Lalu, bagaimana denganku disuduthari? Aku kali ini senyum-senyum sendiri, sebab perempuan memang sekompleks itu. Segala hal tentang dirinya patut dirayakan.
Perempuan ialah pemangku generasi. Perempuan tantangan utamanya ialah bagaimana aktualisasi diri terbangun, tanpa meninggalkan peran apapun.
Namun, indah yang kutemui hari-hari ini. Perempuan sudah semakin banyak yang mengisi ruang-ruang strategis di bidangnya.
Tak lain, karena mereka membangun komunitasnya sendiri, dan sudah mulai terbangun warga Indonesia yang berpendidikan dan mengutamakan kompetensi. Tidak melihat ia perempuan atau laki-laki.
Garnish
"Alangkah ajaibnya rasa kasih sayang. Rasa cinta adalah surga dan neraka yang menjadi satu.” — R.A. Kartini dalam Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya

.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
Posting Komentar
Posting Komentar