Sederhana bahasanya, tapi dalam dan luas pembahasannya.
A. PROLOG – Senandika tentang Visi yang Kehilangan Bobotnya
Bak Mandi Suci
– disuduthari
Aku tak bisa menatap wajahmu, matamu apalagi. Segala kata yang terucap dari bibirmu semuanya fakta. Menghujam paa bilik laku dalam ruang mediasi bernama 'kesadaran'.
Saat aku mulai menyungkal kritik demi kritik yang mendarat ke sini, aku tak menyangka akhirnya kan begini. Sesuatu yang kurasa aku aman di dalamnya, menjadi sesuatu yang aku menjadi tersangka utamanya.
Bak jaksa penuntut umum, dirimu dan argumen tuntutanmu, tak ubahnya pisau tajam yang siap menghunus kapan saja. Lalu aku, dengan diri yang masih tertatih memasuki dunia baru, tak punya cukup alasan untuk menyelamatkan diri dari semua serangan psikis ini.
Tolong, bisakah manusia di dunia ini menilai seseorang dari dirinya yang sebelumnya, bukan dari standar yang dimiliki oleh penilai? Karena ukuran kemampuan tiap orang berbeda, tidak bisa ikan serta merta disuruh terbang!
Namun, apa boleh buat. Manusia memang terkadang 'jahat'. Hanya bisa menilai baik dari target yang dicapai, bukan dari proses yang sungguh bikin lunglai.
Menyikapi hal semacam barusan, aku yang dulu mungkin akan merah padam. Menangis ala perempuan paling merana di dunia. Meraung ala gadis manis yang digoshting 'teman dekat'nya.
Kali ini, pemikiran dipaksa datang lebih cepat. Mengobati sebelum lukanya merambat ke mana-mana.
Terguar rentetan kelemahan. Satu kata yang tak hanya kata, yakni 'bertahan'.
Dengan semua yang dikatakannya. Dengan semua fakta yang diboyongnya, keraguan mulai menghantuiku. Apakah ini jalan yang benar? Ataukah ini jalan yang aman, sebagai sebuah pelarian?
Serasa buta dengan visi masa depan, semua yang kutata, dicemooh luar dalam. Katanya, itu tak lebih dari seonggok 'khayalan'.
Bagaimana bisa seseorang hidup dalam dunia yang dibuatnya sendiri? Terputus dari interaksi transfer nilai sebagai apresiasi.
Sungguh, tubuhku rasanya jatuh dengan cepat. Tiada apapun yang bisa jadi penopang, hanya diri dengan air mata berlinang.
Aku salah. Kukui aku salah. Aku lemah. Kuakui aku sungguh lemah. Kuberbenah, tak perlu kau percaya, tapi lihat saja.
Diri ini sudah lelah dengan validasi. Tamparan nyata emosional adalah sesuatu yang menyakitkan, tapi juga menyembuhakan.
Berkali-kali kukakatakan, aku butuh rasa sakit ini. Bukan mengaminkan berlangsung selamanya, tapi di periode waktu tertentu, ini bak mandi suci.
Bila ada yang penasaran selepas Ramadan, apa yang mau dilakukan? Atau apa yang sedang dilakukan dan terus dilakukan?
Jawabannya ialah menulis buku. Lalu, mengisi blog lagi. Lalu, mempelajari teknis optimasinya lagi. Lalu, seutuhnya berselancar di dunia digital dengan tenaga dan pikiran yang terkuras, minimal tidak pulang dengan tangan kosong.
Tidak kau tahu, arti dari dunia di tangan kita? Aku teringat kata-kata Imam Syafi'i,
"Jadikanlah akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu"
B. Meletakkan Batu Pertama dengan Banner disuduthari
1. SOAL BUKU
Dari dulu hingga kini, kata bloger tak pernah seutuhnya menjadi label yang mewakiliku. Mungkin itulah sebabnya, baru di tahap awal blogging aku merasa cukup dan belum lanjut upgrade skill ngeblog.
Waktu yang dirasa belum ketemu, atau adanya fee dari kelas yang dituju, bukan alasan terbesar. Ternyata, ada satu nama yang menunggu untuk dihadirkan lebih awal.
Ialah menulis. Ialah penulis. Menulis dalam format buku. Penulis sebuah buku yang aku banget itu.
Sejauh apapun aku melangkah bermedia sosial, selalu yang satu ini menarikku lagi dan lagi. Kurasa, bila ini tak dituntaskan bagaimana bisa melanjutkan yang lainnya? Bila ini tak jadi apa-apa, bagaimana bisa yang lainnya bercahaya?
Aku tengah menulis sebuah draft yang kan kutawarkan pada penerbit mayor. Tulisan berbentu senandika, tulisan yang paling lancar jaya kueksekusi, tulisan tentang membenahi arti.
Berjudul, "Tak Cukupkah Satu, Tak Cukupkah Aku" dengan sub bab yang syarat akan kronologi dan cinta 'mati'?
Lucu sekali! Ada sebuah quotes begini,
Laki-laki mencintai ribuan wanita namun ia mati karena seorang wanita. Dan wanita mencintai seorang laki-laki. Karenanya ia mati berkali-kali. – Nizar Qabbani
Oh ya, draft buku ini, kurang lebih baru 60% dengan isi tulisan yang judul kecilnya itu....
- Dicium Afirmasi
- Boleh Saja, Asal...
- Apa Maksud Anda?
- Telanjang Muka
- Berstatus Pernah
- Alternatif Terakhir
- Ratu Bukan Putri
- Wajar
- Apinya Sudah Padam?
- Aku Siap Mundur
- Tolong lepaskan
- Mimpi yong Membeku
- Aku Tak Kuat
- Wajar, Cantik
- Bukan Remah-remah
- Aku Bukan Pencinta
- Belum Sesiap Itu
- Jembatan yang Tak Kutawarkan
- Tertawa, Lalu Menangis. Tersenyum, Kemudian Habis.
- Cukup la Satu-satunya
- Tahun ke-3
- Tahun ke-2
- 2Bias(A)/Kau Punya Aku?
- Hitam di Atas Putih
- Pada Tiap Kecup yang Mendarat di Pipi
- Tahun ke-1
- Ada Apa lagi Ini?
- Bincang Ending
- Kesimpulan Besar
- Selesai (Saja)
- Apa yang Terangkat & Kau yang sulit Ditebak
- Beda Suarа
- Untuk 3 Lainnya
(Masih terus mematangkan, perihal mengurangi dan menambahkan)
2. SOAL BLOG - Belajar with Ruang Cupuers Blogspedia
3. SOAL MEDSOS & Platform Keseluruhan
Semuanya berlandas transfer nilai "profesional". Ini akan ditekankan lebih serius, soalnya sudah teralalu lama menjalani dengan kekosongan, dengan kehampaan.
Ssssst, selain melihat Narasi, saat ini ada juga yang namanya Malaka Project, ya? Sungguh menginspirasi!
Generasi muda dengan kapasitas mumpuni, berhasil memasuki ruang-ruang strategis di industri ini.
C. EPILOG : The Next Karya disuduthari – and You?
Habis sudah ceritaku soal the next karya disuduthari. Kini, mau berbagi seberapa siap dirimu dan visi berkaryamu selepas ini?
Kuat-kuat, ya. Karena dunia ini penuh ketidakadilan, maka apa yang bisa kita lakukan sekarang?
#TheCupersIsBack
#RamadanSoulJourney
#BloggingAsIbadah






Posting Komentar
Posting Komentar