Dear My Self

Posting Komentar

 

Dear My Self

Dear My Self...


Terima kasih sudah menemani di moment ini. Deru nafas masih menghias, kau tahu? tangis haru kian berbekas.


Kau adalah aku. Namun kiranya ada bagian dari dirimu yang belum sepenuhnya melekat padaku. Pada tingkah lakuku.


Terima kasih sudah mengingatkan akan makna dari perayaan yang banyak diagung-agungkan. Kusadari, tak sepenuhnya mereka yang merayakan menginginkan hal berlebihan. Justru, ada sebagian di antaranya yang sedang berjuang mencharge kembali batrai kepercayaan dirinya, mengisi ulang stok rasa berharganya.


Kamu... aku... tak peduli apa yang waktu bisikkan pada kita. Tentang angka yang bertambah dan kapasitas usia yang berkurang. Tentang biru yang berlalu-lalang dan diri yang sedang berperang.


Ah, tahun ini tak begitu menyenangkan ya? Tapi, bukan berarti tak ada yang membuat senang. Alhamdulillah kita sudah menjalani angka 19 ini. 


Berat yaa meninggalkan angka belasan? Tentu jika boleh, mari kita hentikan perguliran angka yang menjadi perhatian banyak orang. 


Memasuki angka 20, tanggung jawab baru menyambangi. Berkali-kali air mata itu terurai, berderai kehilangan kendali di beberapa situasi. Masih terombang-ambing, masih tenggelam dan menelan air.


Perlahan tapi pasti, cobalah kepakan tangan. Nikmati butiran air yang melambai. Kita hanya perlu tenang dan berpikir dengan matang, jalan keluar berteriak memberi tali ke tepian.


Kau hebat! Kau sudah tersenyum sembari menulis ini. Tak ada yang lebih indah dari aura positif ilahiyyah. Jangan lupa kita sedang ada di mana dan untuk apa.


Mari mulai berkreasi, beraksi, dan berkarya. Kau pembelajar, tak apa jika masih ada coretan kecil di pinggiran.


Hmmm, sekarang lihatlah! To do list, tugas-tugas mengantri di barisannya. Ada yang berhasil mencapai finish, ada yang masih miss. Hehe, tak apa... jadikan pembelajaran untuk ke depan. Hal keliru dari pola yang keliru. Mari merajut ulang dengan pola yang baru.


Masih ingat kata-kata darinya? Iyaa, pengembangan diri bukanlah berbicara satu kali atau pernah, melainkan terus menerus atau berkelanjutan. Tiada akhir selama dunia masih kita bijak dengan normal.


Maria Ulfah, tegaplah! Berhenti menyesali pilihan di masa lalu yang membuatmu kecewa. Ketentuan Tuhan lebih utama. Hal yang kamu tak suka bisa jadi ia yang paling kamu syukuri.


Lihatlah jaket coklat yang beberapa tahun lalu ingin kamu tukarkan saja. Beberapa tahun kemudian, ia menjadi andalan. Siapa yang tahu akhirnya akan seperti apa? Lakukan saja tugas kita, selaku hamba. Tetap lakukan yang terbaik penuh cinta dan tetap berada di koridor-Nya.



Fighthing!


(Sebuah jawaban dari https://www.disuduthari.com/2020/09/ulang-tahun-baca-ini-dulu-siapa-tahu.html)


Maria Ulfah
Seorang pembelajar sepanjang hayat yang menyukai Psikologi, Motivasi, dan Pengembangan Diri, juga sering bergelut dengan 'Hati'.

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email