disuduthari header

Surat untuk Sahabat Sealam Raya

Posting Komentar





Teruntuk para sahabat sealam raya,

kupersembahkan curah rasa paling dalam yang menjadikanmu sebagai objek utamanya.


Bahkan-Tidak-Sebagai-Saksipun


Part I : … bahkan, tidak sebagai saksipun


Takdir Tuhan selalu menyenangkan. Menyenangkan untuk pada akhirnya direnungkan, mana yang masuk kategori baik dan buruk, lalu petikan pelajaran dari sana meminta diurai.

Kamu merupakan bagian dari sejarah hidupku. Potongan ceritaku tak lepas oleh butir kenang bersamamu. Kini, kutuang sedikit momen-momen dan rasa yang tersimpan, yang tersisa.

Bukan tak ingin lagi bersama, hanya jalan dari Tuhan sudah sedemikian rupa. Aku dan kamu, ya, kita, tak lagi dalam ruang dan waktu yang sama.

Sesekali ingatan tentangmu mencuat dengan hebat, kala seperti ini, harapku adalah kembali mendengar langsung suaramu. Tapi tidak, kutahu itu tak bisa. Kupahami dan telah kucoba, ternyata tak sama sebagaimana masa itu.

Masing-masing dari kita sudah membangun dunia lain, sudah dihantam milyaran ujian tanpa menjadikan satu sama lain sebagai teman perjalanan, bahkan tidak sebagai saksipun. Maka kurasa tak heran, jika hasrat ingin bersama di waktu tertentu, tak selamanya dapat terwujud.

Apalagi, jika sebelum putusnya interaksi ada yang tak sengaja melempar sepah atau memang sudah mesti begitu menurut Tuhan. Bukan salam perpisahan yang manis, tapi sebuah kado berisi dentuman yang menyusut kepercayaan dan keberhargaan.

Aku tak ingin menyebutkan sebuah kata berawalan “K” itu. Aku inginnya terfokus pada kata berawalan “B” saja. Ya, kita mau A tapi takdir berkata B. Semula tak suka B, lama-lama bisa melihat sisi pelangi dari B.

Bersyukur dan Bahagia bisa mengenalmu.

____

Getir-Rindu

Part II : Getir Rindu



Hai,

Kini kulontar pertanyaan klise terkesan basa-basi yang kita gugat di masa itu. Ya, “Apa kabar?”



Tak pernah terbayangkan jika mimpi buruk menjadi nyata sekarang. Hari dimana hidup berjalan tanpa namamu. Hari dimana kilat senyum dan raung kisah tentang dunia kita lagi bertaut dalam ruang yang sama.

Senyumku tetiba hadir, tapi isak juga tak mau ditinggal. Bayang dirimu datang, tapi aku sedang tak bisa pulang. Ya, tak lagi bisa pulang ke panorama di seberang jendela ingatan.

Bertahun lamanya, detik di hariku dibersamai kamu. Bertahun lamanya, hangat sikapmu selimuti laraku. Tak jarang kau menjadi alasan seringai tawaku.

Begitu pun di deras waktumu, aku berdiri di tengah sana, mendorong ayunan kaki itu yang berat katamu. Kutawarkan tasmu untuk kujinjing. Kuantarkan kamu ke bawah mentari kala menggigil. Itulah setitik keindahan yang tertoreh di benak.

Dalam ancaman petir yang bisa menyambar kapan saja, kita menjadi tameng satu sama lain di segala keadaan. Siap mati demi satu dari kita bisa hidup. Bahasa majas dan bahasa ekstremnya ya, begitu.

Biar peluh datang, handuk kering dari sahabat siap mendekap. Api unggun siap dinyalakan.

Bukan tentang lara saja, begitupun juga kabar bahagia yang mengguyur salah satu diantara kita, pastilah sama-sama dirasakan segarnya. Cipratan demi cipratan kian memenuhi tangki kasih sayang.

Lagi-lagi, kau menjadi anugerah Tuhan untuk penuhku masa itu. Terimakasih.


SS

Part III : Saya - Sayu


Musikalisasi puisi berjudul “Ini Saya, Bukan Aku” kukira relate dengan apa yang kini terjadi pada kita. Menjadi asing kembali. Sama seperti belum pernah ketemu, atau lebih dari itu.

Bukan aku tak menerima, bukan aku tak rela, kumengerti betul kisah masa lalu menjadi milik kita, walau ada bagian tertentu yang kalau bisa didelete saja. Ialah alasan mengapa kita berada di bawah langit abu selama sisa hidup ini.

Jangan lihat mataku sore ini, atau malam itu, tak ingin rasanya dikasihani atau membebani. Ini adalah salahku juga. Tak ada yang 100% benar di dunia.

Kata orang mataku sembab, atau lebih halusnya mataku terlihat sayu dari cermin. Saya dan sayu menyatu. Membuat diri yang bukan saksi hidupmu, tapi merasakan getir rindu ini ingin menyebut-nyebut segala toreh kebaikanmu.

_______

Maaf dan terimakasih, Sahabatku.

Kamu pernah menjadi orang yang paling tahu aku.

Maaf dan terimakasih, orang baik.

Percaya, Tuhan tuntun langkah supersonik.



Maria Ulfah
Seorang partner belajar dan bloger. Sangat menyukai psikologi, motivasi, & pengembangan diri, juga sering bergelut dengan hati. Baru-baru ini menjadi kontributor antologi cerpen "Mengeja Patah, Merangkai Hati."

Related Posts

Posting Komentar