disuduthari header

Senandika : Refleksi Kecil

Posting Komentar


Sebuah rekleksi kecil di momen besar. Hari lahir menjadi sesuatu yang teramat menggebrak diri.

Selamat menikmati, karena mungkin saja kamu pernah atau bahkan sedang berada di titik ini.

.
.
.


Refleksi Kecil (Sebuah Senandika)


Dua hari yang lalu kuberucap selamat datang pada tanggal dua puluh lima bulan maret tahun ini. Ya, tahun dua ribu dua puluh dua yang bertepatan dengan usiaku ke dua puluh satu.


Aku tidak dengan sadar menginginkan hidup layaknya serial drama. Namun, seseorang di sampingku berbisik aku dan hidupku penuh drama.


Katanya, sungguh segala sesuatu didramatisir. Naik turunnya keadaan diriku dilihatkan tanpa diusir.


Kuakui, aku masihlah manusia yang masih butuh validasi dari yang lain. Tak jarang hujatan masihlah merobohkanku, tak jarang pujian masih belum bisa kuterima. Aku mengelak dan malah menjadikannya sebagai harapan.


Padahal kurang apa lagi? Orang-orang yang mensupportku dengan tulusnya, mereks berbagi kasih dengan cara berkata manis nan baik di telingaku (meski kutahu terkadang ada yang tak benar-benar begitu tentunya).


Aku masih ciut. Ya, masihlah ciut di beberapa kesempatan, terutama saat aku sedang tidak di titik idealku.


Aku terluka kala seseorang di sampingku memuji makhluk lain karena keelokan dan keindahannya. Saat itu pikirku mengelana pada posisi di mana ia dengan kelebihan dan aku penuh kekurangan.


Jika dipikir ulang, insecure ini jika disikapi begini terus diri yang akan dimakan habis. Aku tak mau itu terjadi!


Satu yang membuatku bisa tenang menyikapi pujian untuk orang lain, yaitu:


“Apa yang dimilikinya adalah anugerah Tuhan padanya. Apa yang melekat di sana tak lebih dari titipan Tuhan dan Tuhan yang memiliki ia dan apa yang ia punya.”


Helaan nafas kembali datang, tetes air mata kembali turun tiba-tiba. Aku masihlah dengan kerapuhan luar biasa. Hidupku banyak ditopang oleh manusia.



Ya Tuhanku yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pembolak -balik Hati, jadikanlah hatiku ini kembali bersih. Aku berkali-laki merasakan ada yang salah di bagian inti diri.
 

“Terlalu cepatnya aku melayang. Terlalu cepatnya aku terpental.”

.
.
.

Maria Ulfah, Ulfah, Ulfa, Ul, Mulfa, Neng, Teteh, The Imut, Bu Momo, Neng Ulfah, dan sekarang ada panggilan baru yaitu Ibu…

Kau teramat mempesona jika kau telah benar-benar paham dengan apa yang Tuhan berikan padamu. Manusia diciptakan dengan beragam potensi, minat, bakat, karakternya.

Misimu ialah mengenali dirimu dan memaksimalkan sumber daya yang kau punya. Mereka yang saat ini begitu bersinar, ialah mereka yang mensyukuri anugerah Tuhannya dengan memaksimalkan potensi diri. Tentu karena takdir Tuhan pula.


So, sekarang kau tahu kan mengapa kau belum dikelilingi cemerlangnya sinar itu? Ya, upayamu belumlah benar-benar sungguh.


Mau mengubahnya? Mari, pelan-pelan. Step by step. Jika sudah tahu polanya kau bisa berlari kencang nantinya.


Lalu, tak menutup kemungkinan, jika kau muncul dengan kehebatan, kau merangkul mereka yang pernah ada di posisimu untuk merasakan lezatnya keberhasilan membangun diri.


Perubahan tidak terjadi satu kali tentunya, maka jangan tuntut dirimu secara sadis. Cukup lakukan dengan hati yang penuh, prasangka yang baik, bertujuan mengenal Tuhan, dan niat yang positif lainnya.


Aku di sini adalah bagian dari dirimu yang lain. Yang sedang berbincang-boncang dengan Neng Ulfah kecil. Saat ini, bahkan sudan ada tanda-tanda Si Kecil di alam lain sedang bersamamu.


Kuharap kamu bisa mendidiknya dengan upaya terbaik, tetes darah terakhir, senyum terindah, mimik termeduhkan, kaki terkuat, tangan terfleksibel, tubuh yang hangat, hati yang suci.



Aku tahu, kau sangat sangat tak mau si kecil itu melakukan hal-hal bodoh yang dilakukan ibunya. Kau sayang dia karena Tuhanmu.



Teruslah kamu bersyukur dan memandang baik atas apapun yang menghampiri dirimu.


Percayalah Tuhan mengurusmu dengan teramat istemawa, menciptakannu dengan teramat sempurna, jadikan ini pacuan untuk dirimu terus berkarya dengan prinsip kebaikan di alam semesta.


Ya Tuhan… Terima kasih banyak. I love You.

.
.
.

Berakhirlah refleksi kecil ini. Terima kasih padamu yang telah bersedia berada bersamaku sampai kalimat ini. Jazakulumullah khaiirr...


Maria Ulfah
Seorang partner belajar dan bloger. Sangat menyukai psikologi, motivasi, & pengembangan diri, juga sering bergelut dengan hati. Baru-baru ini menjadi kontributor antologi cerpen "Mengeja Patah, Merangkai Hati."

Related Posts

Posting Komentar