disuduthari header

Potret Kilat di Fase Dewasa Muda

2 komentar

(Berteman lagu berjudul “Kamu” – Fiersa Besari)

Potret Kilat di Fase Dewasa Muda


Malam ini rasanya tak menentu. Aku yang biasanya baik-baik saja saat sendiri akhirnya mengaku kalah padamu, dengan kata rindu, tidak-tidak, aku kangen.


Rindu masih bisa ditahan dan menjadi bahan galau yang begitu estetik, sedangkan kangen begitu memojokkanku untuk bertemu. Terserah via apa, yang pasti ketemu titik.


Sungguh, aku tak pernah menyangka akan di titik ini. Titik dimana aku jatuh, ya jatuh hati lagi.


Sesuatu yang sebelumnya tiada perlahan tercipta dan mesti ini kuasa Pencipta, kamulah yang menjadi wakil di muka bumi ini, di duniaku. Yang kupercaya, sejak awal kita tak pernah dimulai dari keisengan, tapi saat kutahu ada kalanya itu iseng-iseng berhadiah, aku bisa apa?


Setiap manusia punya keinginan, pemikiran, dan perasaannya masing-masing. Saat kita mulai melihat 3 unsur barusan di minimal dua orang, sedikit banyaknya kita kan sadar akan sesuatu yang tak terlihat di permukaan. Ada pengaruh, ada hasrat, ada harapan, ada karakter, dan ada ada yang lainnya.


Sungguh, kali ini aku cukup gundah. Ya, aku tadi mendengar ucapan manismu, bahkan terlalu manis. Namun, di sisi lain, aku masih teringat sesuatu yang membuatku menangis kemarin. Bahwa kamu, tidak se free pada awalnya, bahwa di sekilingmu ada yang mau kamu juga. Lalu, mana bisa aku diam saja?


Aih, setidaknya aku perlu melakukan sesuatu. Tak ada jaminan kau tetap akan di sini di situasi apapun. Kalau pun ada peluang yang lebih baik di pojok sana, apakah itu tak membuatmu goyah juga? Lupakan segala sikap manismu yang terlalu manis itu pada perempuan selain aku, yang kutahu aku baiknya segera benar-benar bersikap juga.


Kali ini aku takkan memintamu menunggu. Justru, aku hanya akan melihat semesta berjalan dengan alamiahnya. Aku melakukan bagianku, dan kamu dengan bagianmu. Adapun salah satu di antara kita ke kiri kanan, aku tak mau tahu. Jujur, bolehkan aku tahunya garis besarnya saja?


Kali ini, aku cukup tidak tenang. Astaghfirulllah… baiklah, bismillah aku mulai menenangkan diriku.


Yaa Rabbii, Yang Maha Baik, Yang Maha Adil, aku tak pernah menyangka akan dihadapkan sengan situasi semacam ini, tapi jika memang ini ketetapan dariMu yang mesti kulakukan aku melakukannya. 


2

Aku sedang tak baik-baik saja 2 minggu yang lalu, dan di saat seperti itu ada seseorang yang datang menawarkan bantuan ke duniaku. Aku sangat berterima kasih Engkau mendekatkan kami dengan cara yang baik dan banyak kebaikan yang bermunculan pula selama ini. 


Tuhanku, kemarin dan hari ini, aku tak mengerti, jelas-jelas tak mengerti rasa yang ada ini membludak tiada terkendali. Aku cukup sedih akan diriku yang tak terkontrol yang bak peminta. Aku miris melihat aku yang tak sengaja sedikit banyaknya bergantung pada manusia, hingga ekstremnya ingin terus bersamanya hampir 24 jam.


Ya, aku mulai mengerti, tahapan fikih dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan. Jika rasa ini tak ditempatkan di tenpat yang tepat  aku pun sangat takut akan berefek negatif pada kami dan kemaslahatan kehidupan kami. Dan kedekatan kami padaMu.


Sungguh, aku ingin menangis. Bisa-bisanya saat ini aku ingin menangis. Aku takut. Aku takut kehilangan, aku takut ditinggal, aku takut jika harus mengalami masa transisi yang cukup menguras tenaga dan fokus. 


Rintangan kini sedang bergelayut di hariku. Aku kini bak dilihat sebagai perempuan yang seutuhnya dewasa. Ya fase dewasa muda pun benar-benar bukan seatas kata-kata lagi.


Aku ingin tertawa, aih, bisa-bisanya aku dengan begitu bebas dan wara wiri mengaku masih anak kecil. Kali ini, aku dihadpkan permasalahan yang meliabatkan banyak sisi. “Mulai mengerti, tidak hanya dimengerti.”


***

3

Aku perlu meluapkan perasaanku, begitu pikirku. Setelah kusadari beberapa saat setelahnya, terlebih saat sudah berwudhu, nyatanya tak mesti seperti itu. Ini tak sedramatis itu kok.


Semuanya mengalir saja seperti biasanya. Terlepas dari perintilan-printilan tadi, kamu tetap insan yang baik-baik saja selama usaha dan do’a sejalan, ikhtir dan pasrahnya dilakukan.


Betapapun membingungkannya sesuatu, sebetulnya kamu bisa memilih untuk senantiasa tenang. Perasaan yang lain, dianak tirikan saja, diluakan seenuhnya di hadapan Sang Pencipta.


Ingatkah kamu saat awal mula semua ini ada, tak pernah ada sangkaan akan menuju ke sini kan? Yang kamu tahu, kamu baik untuk mengambil kesempatan belajar.


Belajar menjalankan sesuatu tanpa tujuan yang ia lakukan pun, nyatanya selaras dengan kamu yang kemarin-kemarin pengen lebih melihat pribadi kharismatik yang lain.


Alhamdulillah, ia, lalu tokoh-tokoh Islam, orang-orang shalih terdahulu yang termaktub dalam sebenar-sebenarnya pedoman mampu menjawab itu.


Kamu yang sangat labil itu pun tak banyak diriutkan dengan perihal masalah kecil-kecil di sekeliling.


Ya, malam ini mungki mungkin sedang gelap, tapi bukan berarti sinar enggan datang lagi. Kamu hanya perlu menikmati setiap prosesnya, setiap potret perjalanan dari-Nya.


Ini bukan perihal keinginan semata, tapi lihat kemaslahatan di baliknya. Lihat gelak yawa yang sering menghiasi, lihat raut kegembiraan dengan washilah dedatangannya.


Hal pahit ada tapi sangat sedikit, itu tak apa. Baik buat mengingatkan dirimu agar nggak terlena.


Manusia perlu tahu banyak hal. Didewasakan oleh ragam permasalahan. Hadapi dengan senyuman dan stay cool. Kalau gundah gulana terlarut-larut, kaya yang nggak punya tempat bergantung aja.


Hayoo, waktunya praktekkin yang sudah dipelajari. Ya, belief system dan nilai yan kamu pegang sinergikan. Kuakui, benar nyatanya saat ada masalah baiknya segera selsaikan biar cepat tenang hati dan perasaannya. Walau hari ini belum bisa, esok dicoba lagi.


Terima kasih untuk hadirmu yang tanpa kuminta. Terima kasih untuk rasa peduli dan nilai humanisme yang begitu kental sejauh ini. Terima kasih telah memanjakan lawan bicaramu dengan teramat baik, maaf masih belum optimal menjalankan step-stepnya.


Semoga awal-akhir baik. Tak mau ada kebencian sekecil apapun, biarkan keikhlasan yang senantiasa bermuara.


Maria Ulfah
Seorang partner belajar dan bloger. Sangat menyukai psikologi, motivasi, & pengembangan diri, juga sering bergelut dengan hati. Baru-baru ini menjadi kontributor antologi cerpen "Mengeja Patah, Merangkai Hati."

Related Posts

2 komentar

  1. Seperti biasa, ngalirrrrr aja bacanya. Ah, ini senandika yang indah sekaligus tragis. Tak apa jika ingin menangis, yang penting jangan berhenti di situ. Harus jalan terus meski kadang terseok. Nggak apa, itu hal normal. Kata badai, ini pun akan berlalu. :')

    BalasHapus
  2. Ah peluuk...
    Aku sampai baca berulang ulang ini..
    Aku pun pernah mengalami ini dikisah yg lampau...hehe

    BalasHapus

Posting Komentar