disuduthari header

Ulasan Tempat Wisata (Sebuah Perjalanan Menyelami Arti)

2 komentar
Malam itu, biiznillah, kucetuskan sebuah pembahasan mengenai tempat wisata. Lebih tepatnya aku bercerita tentang tugas blogspedia coaching kali ini tentang ulasan tempat wisata.


Kebetulan aku sedang tak sendiri, secara tak terduga percakapan pecah di hari-hari yang berjalan ini. Tak masuk akal memang jika dipikirkan, aku yang kurasa cukup tertutup ini, perlahan-lahan membuka tirai atau bahkan jeruji hati dan pemikiran. Kukira selama ini aku baik-baik saja, sampai di satu titik rendah dalam hidup, terpergoklah diri oleh seseorang yang hadirnya bak alarm pengingat, bahwa ada sesuatu dalam diri ini yang begitu redup.


Kali ini cukup berbeda dari biasanya, ada dorongan yang juga sendikit berbeda dari unghan-ungghanku sebelumnya. Selamat menyantap hidangan yang mungkin masing keasinan, pemanisan, gosong sebelah, dan lainnnya di bawah ini!


Ulasan Tempat Wisata (Sebuah Perjalanan Menyelami Arti)


A. Pentingnya tempat-tempat ini apa sih?


Saat mendengar kata wisata, aku tak sengaja membunuh kebebasan menselancari otak dengan statement “Ah tema ini, aku kan minim jalan-jalan!” “Mana kutahu tempat wisata, ke luar rumah aja bisa dihitung jari!” “Mati sudah, mau nulis apa?!” Kalimat-kalimat semacam ini menurutku sangat-sangat kurang baik disuapkan ke otak kita.


Selain dari barusan, saat mendengar kata wisata, aku pun otamatis mengabsen tempat-tempat ramai pengunjung dan begitu dirindukan banyak jiwa. Aku tahu orang-orang bilang vitamin sea, aku melihat sebagian temanku begitu excited saat mendaki, atau bahkan banyak sekali pasang mata yang bertemu di tempat sejuk nan hijau di daerah-daerah tertentu.


Namun, pemahamanku sejauh ini baru sebatas menyebutkan tempat-tempat barusan. Ya perpustakaan juga bisa, museum juga bisa, tapi inti dari pentingnya tempat-tempat ini apa sih? Lebih dari rekomendasi personal ke personal, personal ke kelompok, dsb tentang destanisi tertentu, ada sesuatu yang belum selesai dan belum terpegang nyatanya.


Aku menyadari ini sangat kedua telinga menjalankan aksinya, yakni dengan mendengarkan bukan hanya mendengar. Juga sebelum mendengar, memilih membuka hati dibanding membuka mulut.


B. Berwisata - Estetika ialah salah satu nutrisi jiwa


“Tempat wisata ialah tempat yang sensasinya menenangkan dan membahagiakan orang yang menemuinya,” begitulah sepenggal yang kupahami dari pemaparan lawan bicaraku malam itu. Katanya, tempat ini berkaitan dengan estetika, di mana estetika sendiri merupakan nutrisi yang baik bagi jiwa.


Sebutlah pantai. Wah bukan sekedar main air biasa, justru perpaduan warna, landskap yang tertangkap, udara yang bergerak, hingga riuh-rendah segala suara yang menggelitik telinga ialah goresan seni dari Sang Pencipta yang begitu dahsyat efeknya.


Perasaan yang sedang kalut, pun pikiran yang ikut kusut, nyatanya bisa dilerai dengan wasilah menghabiskan waktu di sana. Cukup memandang tanpa menyentuh pun hadirkan desir di dalam dada. Ada yang pernah merasakan juga?


Kalau memang yang dimaksud tempat wisata adalah sesuatu semacam ini, bukankah tiap pribadi sangat mungkin punya preferensinya tersendiri? Bahkan, ketenangan dan kebahagiaan seorang hamba bertaqarrub pada Tuhannya di tempat sujud, termasuk berwisata. Lalu, bisa-bisanya dua insan yang sedang bersama maupun berusaha untuk bersama ikut-ikutan juga! 


C. Destinasi hati – kebersamaan dengan partner hidup


Aku sedikit malu-malu masuk ke poin ini. Sebab, anganku berlarian dan aku masih harus menjaga kebersihan pemikiran dan perasaan. Di titik ini, mungkin Partners ada yang sudah sah bersama, ada pula yang masih berusaha untuk bersama.


Terdapat suatu peredaan tentang dua hal barusan, kita tahu bersama yang notabenenya masih berusaha bersama (secara benar) masih terkungkung sesuatu dan jauh dari sebenar-benarnya kebebasan. Makanya, menjaga ritme dari aktivitas bersama meski tergolong baik mesti tetap wanti-wanti.


Postinganku di akun IG @ultraulfa, dimana 3 hal yang paling kusuka yang salah satunya ialah menghabiskan waktu bersama orang yang disayang, membuatku kadangkala terhanyut arus di hadapan. Ya aku dan ia yang … (aku bingung membahasakan).


Jujur, lebih dari berbicara kemauan yang bersifat nafsu semata, ada sesuatu yang besar yang sedang dibangun pada diri yang hina. Dibangun sama-sama pada akhirnya. Membuat bangunan yang diharapkan lebih kokoh dan lebih elok nantinya.


D. Rasa manis nan sakral yang dititip di secarik catatan


Dari kacamata psikologi, laki-laki didominasi indera penglihatan, maka tak salah jika perhatiannya tertuju pada yang bening-bening di pelupuk mata. Sementara perempuan didominasi indera pendengaran, maka tak salah jika kefokusannya terenggut ungkapan-ungkapan yang bersifat emosional di telinga.


Tuhan Maha Adil, manusia diciptakan berbeda dan menjadi unik dan istimewa karena perbedaan itu. So, sebagai salah satu perempuan di muka bumi ini, ada ungkapan-ungkapan yang kukasih bintang.


Berikut beberapa di antaranya:

Ulasan Tempat Wisata

2

3

E. Selanjutnya bagaimana?


Walau takdir sudah ditentukan Sang Pencipta, tetap saja sumbangsih kita pun baik adanya. Karena menghabiskan waktu bersama orang yang disayang bisa dikatakan berwisata. Maka keamanan dan keselamatan menjalankannya sangat penting diperhatikan.


Kami sedang melakukannya. Selain melakukan perbaikan fisik-psikis/jasmani-rohani/ruh-tubuh dan lainnya, kami pun sedang menapi step demi step menuju keselamatan tersebut. Di proses inilah sesuatu pun penting dijaga, bagaimana keyakinan kita pada Tuhan, berprasangka baik, dan menerima baik buruk yang terjadi.


Terakhir, demi ketenangan dan kebahagiaan menuju Negeri Akhirat, partner hidup punya andil yang cukup siginifikan mengawal ini. Bagaimana salin mendekatkan pada Tuhan, bagaiamna saling mengingatkan dan menguatkan, bagaimana saling nasihat-menasihati di dalam kebenaran dan kesabaran.


Baiklah, sekian perincangan kita atau mungkin cerita dan pandanganku tentang ulasan tempat wisata. Apakah kamu setuju kebersamaan dengan seseorang pun bisa dikatakan berwisata? Kalau mau jawab, kolom komentar masih terbuka, Terima kasih dan salam.


Maria Ulfah
Seorang partner belajar dan bloger. Sangat menyukai psikologi, motivasi, & pengembangan diri, juga sering bergelut dengan hati. Baru-baru ini menjadi kontributor antologi cerpen "Mengeja Patah, Merangkai Hati."
Terbaru Lebih lama

Related Posts

2 komentar

  1. Awalnya sedikit bingung dibagian awal...
    Jdi liat perspektif yg berbeda soal berwisata, lanjutkan mbaa

    BalasHapus
  2. Aku nggak nyangka wisata bisa ditulis dalam sisi yg berbeda. Keren juga ;)

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email