disuduthari header

Kecewa Pada Harap yang Kutanam Sendiri

Posting Komentar

Kecewa pada harap yang kutanam sendiri

Dan lagi, semua yang terjadi membuatku terkaget-kaget. Kau dan aku punya sekat dalam nyata. Betapa aku tak melihat gurat keingintahuan dirimu, pun keinginan tuk bersamaku lebih lama. 


Aku kecewa pada harap yang kutanam sendiri. Lalu, kudengar jelas bahwa kamu bukanlah insan yang sedang sendiri dalam kasus romansa.


Baiklah, akan kuluruskan kekeliruan persepsiku. Ya, kita hanya sebatas lawan bicara yang berbagi sepenggal kisah tanpa berniat mengisi sebait kasih.


Padamu yang pernah membuatku melayang tinggi lalu terhempas kembali ke bumi, terima kasih untuk pembelajaran ini. Aku semakin tahu tentang kedewasaan dalam menyikapi sejumput percakapan maya yang bergerak cepat.


Aku belajar menyikapi celah alur yang membuat lembar cerita cacat. Aku mengerti bahwa hal terdalam tak bisa hanya dinilai dari pernah atau tidak pernahnya jantung berdegup kencang.


Selamat siang kamu, teman bicara yang kemarin kutitip harap diam-diam.


Biarkan aku pulang ke tempatku. Zona berbahaya itu tak lagi mampu kusinggahi.



Maria Ulfah
Seorang partner belajar dan bloger. Sangat menyukai psikologi, motivasi, & pengembangan diri, juga sering bergelut dengan hati. Baru-baru ini menjadi kontributor antologi cerpen "Mengeja Patah, Merangkai Hati."

Related Posts

Posting Komentar