disuduthari header

Tak Mau Kamu Jadi Korban Gabutku

Posting Komentar

Tak Mau Kamu Jadi Korban Gabutku

Hai, selamat malam.


Apa kabar malammu saat ini? Ingin rasanya ada di benakmu, mengisi ruang VIP di hatimu. 


Sudah tidurkah? Aku yang bukan siapa-siapa ini bisa-bisanya resah. Seperti judul lagu yang kau bagi, dibuat melayang rasaku ke angkasa.


Kamu teramat menyenangkan. Aku bukan tak ingin bercengkerama denganmu tiap saat. Hanya saja, aku sedang menjaga ritme kita. Tak mau pola yang lalu mengelabuiku. Tak mau kau dan aku bertemu hanya karena kekosongan waktu. Aku tak mau kamu jadi korban gabutku.


Kamu teramat baik untuk diperlakukan bodoh. Tidak, tidak, bukan begitu. Bukan berarti lembar cerita lalu di duniaku bodoh. Aku hanya menyadari satu hal, bahwa kita bukanlah keterburu-buruan, kita bukanlah pemanis yang disajikan tiap saat hingga rasa manisnya hilang.


Aku memang ingin kamu ada di sini, tapi di sisi lain, seperkiraanku kamu sedang menata kejora. Aku tak mau membuat sinar yang hampir muncul malah sirna. Sudah cukup sikap manismu buatku jatuh. Kini aku ingin melihatmu bangkit dengan dayamu. Dari kejauhan, biarkan aku memandangmu dari kejauhan.


Jika ada apa-apa, tolonglah berbagi kisah. Aku memang bukan orang yang selamanya stabil, tapi jika kamu butuh tempat dimana kamu hebat meski dengan lebam tubuhmu, inilah tempatnya.


Kamu menggemaskan, betapa hal canda itu terasa nyata. Aku tak jelas menujukkannya padamu untuk berdalih bahwa kita masih bisa saling mengenal lebih lama lagi.


Entah mengapa, aku takut. Aku takut dirimu kembali ke tahtamu dan lupa tempat ini. Aku takut kamu pergi dengan kereta kencana yang tak bisa disentuh sembarang orang, termasuk aku.  Aku takut kamu kehilangan apa yang kamu butuhkan dariku. Aku takut ketinggalan pesawat yang kau tumpangi. Aku takut…


Dengarlah, akan mulai kujalani lagi baris aksara yang pernah membuatku terasa begitu hidup. Denganmu, aku mememukan lentera. Denganmu, ku tak lagi sungkan mengembara pada kepingan demi kepingan cerita yang penuh tanda tanya.


Kuharap malam ini menghangat. Biarkan di sini saja yang dingin. Biarkan aku melindungi diriku sendiri dari terpaan badai asmara yang berputar semakin lama semakin kencang.


Selamat istirahat, orang manis.


Kita lihat saja akhir cerita di layar lebar sana. Bersama kecupan waktu di sampingmu, pejamkan mata dan terlelaplah. Senyuman mengintip di celah mimpimu.



Maria Ulfah
Seorang partner belajar dan bloger. Sangat menyukai psikologi, motivasi, & pengembangan diri, juga sering bergelut dengan hati. Baru-baru ini menjadi kontributor antologi cerpen "Mengeja Patah, Merangkai Hati."

Related Posts

Posting Komentar