disuduthari header

Rasakan Nikmatnya “Si Tumpeng Ungu”

2 komentar

Nikmatnya Tumpeng Ungu


Hai, hai! Kali ini, aku mau bisikin salah satu menu yang berciri khas di Resto Mamih Ungu. Yaps! Si Tumpeng Ungu yang anti-mainstream tentunya. But, sebelum itu, kita berbincang-bincang dulu yaaa.

Di sudut hari, bolehlah sesekali kita sejenak melebarkan senyum, menggambarkan betapa uniknya Negara Kita, Indonesia, si Zhamrud Khatulistiwa. Jangankan orang kepincut mengeruk alamnya yang kaya, disuguhi bacem, karedok, semur jengkol sampe nasi uduk yang dinanak dengan air perahan kelapa nan lezat saja, cukup membuat banyak orang dari beragam belahan dunia betah tinggal di Indonesia. Jangan-jangan, dulu banyak negara berebut menjajah Indonesia hanya karena ingin setiap pagi harinya mencicipi nasi tumpeng ala ibu-ibu Indonesia!

Okelah, abaikan saja ilustrasi diatas, benar atau tidak itu urusan para pakar. So, pada kenyataannya negeri kita kaya dengan hidangan yang lebih dari sekedar memanjakan lidah. Coba tengok saja si Kota Santri (Sukabumi) dari Jawa Barat, bila kita menginjakan kaki di tanahnya, patut kita langkahkan kaki kita ke Jl.Brawijaya No. 16, Sriwidari, Kec. Sukabumi, Kota Sukabumi, Jawa Barat 12160, Indonesia.

Ada apa sih dengan alamat itu? Sejujurnya, alangkah lebih baik jika kita menyengaja singgah kesana, dijamin lebih berasa. Ya lagi pula, artikel ini hanya menggambarkan sebentuk rasa yang sulit dirangkai dengan kata tentang nikmatnya Si Tumpeng Ungu racikan resto Mamih Ungu. Tapi tak apalah, saya akan tetap mengulas betapa recomended nya resto ini untuk siapa saja. Btw, sayang juga kalau perasaan seberkesan ini tidak saya ceritakan.

Setitik Suasana di Resto Mamih Ungu

Melihat Suasana

Seperti biasanya, hal pertama yang dinilai oleh kebanyakan orang, ya penampilan. Apa yang nampak, apa yang terlihat, ada benarnya juga sebuah pepatah populis di kalangan kita, “dari mana turun ke hati,” itu bukan soal bucin-bucinan saja lho. Tapi dalam semua bingkai hidup.

Nah, Resto Mamih Ungu pasti deh akan memikat mata kita sekalipun baru dari tampak luarnya saja. Resto dengan bangunan dua lantai ini boleh dibilang sebagai sumber ketenangan di tengah hiruk-pikuknya kota. Kala sore hari datang, gemerlap lampu-lampu di depan resto akan menyejukan hati kita. Saat melangkahkan kaki ke dalamnya, bukan alang kepalang hati kita akan dibawa pada pilihan tempat duduk yang begitu tenang, sejuk pula.

Nikmatnya hidangan sambil ngobrol-ngobrol renyah soal berbagai hal, akan terasa begitu nyaman di Resto Mamih Ungu yang jadi Icon Sukabumi ini. Kita bisa memilih lesehan untuk duduk-dauduk santai, bisa juga kita pilih tempat duduk makan yang sederhana namun tetap terkesan lux, bisa juga kita memlih Imah Kopi untuk sejenak menghela nafas panjang-panjang setelah sekian aktivitas kita jalani, atau bisa juga kita memilih langsung di Balkon, tempat yang tepat untuk bicara harapan-harapan masa depan. Atau boleh juga kita memilih tempat karaoke yang disediakan Resto ini.

Cocok sekali kita mengunjuginya bersama keluarga, dengan pasangan pun boleh, sanak kerabat dan sahabat juga tak salah, gimana kalau sendiri? Cocok-cocok aja, ini tempat yang nyaman untuk menikmati kesendirian, untung-beruntung ketemu seseorang, hehehe.


Si Tumpeng Ungu dari Dari Menu

Daftar Menu
Sumber gambar: IG @Mamih_Ungu


Saatnya kita beranjak pada hidangan yang sedari tadi membuat kita penasaran, bukankah begitu? Sebetulnya, pilihan menu yang ditawarkan di resto ini, cukup bervariasi. Namun, aku lebih terfokus pada sajian tumpeng yang berwarna unik itu. Kita bisa lihat sendiri, harga yang ditawarkan pun tak begitu menguras kantong. Terlebih, karena dibayar tuntas dengan kelezatan makanannya, suasana yang menentramkan, dan momen berharga yang tak terlupakan.

Oh iya, sejak kapan dan mengapa tumpeng ini berwarna selain kuning? Jadi begini ceritanya, latar sejarah yang menjadikan tumpeng ungu ini tercipta pada tahun 2007. Pemilik Mamih Ungu berkreasi dalam kuliner dengan membuat tumpeng berwarna ungu, karena dirasa memakan nasi uduk berwarna kuning sudah menjenuhkan.

Eits, tak perlu khawatir dengan warna ungu yang digunakan pada tumpeng ini, karena warna ungunya itu berasal dari ubi. Jadi aman plus dapat memenuhi kebutuhan nutrisi pada tubuh kita. Pun rasanya yang khas tak bisa membohongi indra pengecap kita, kalau memang tumpeng ungu ini berbeda dari yang lainnya. Sampai sini, adakah rencana on the way ke resto yang satu ini?

Tak hanya makan di tempat, kita juga bisa memilih delivery order, juga catring. Dari sekian banyak menu yang ditawarkan, sebuah menu yang cocok banget untuk acara-acara salah satunya tumpeng ungu mini yang penampakannya ada di judul tadi.


Kekeliruan antara Nasi Uduk VS Tumpeng

Sobat! terkhusus orang sunda, biasanya sering keliru membedakan anatara nasi uduk dan tumpek. Lho kok? Iya, Karena kebanyakan orang mengatakan tumpeng itu nasi uduk, maka dianggap benar deh. Eh padahal, nasi uduk dan tumpung dalah satu perbedaannya terletak dari warna. Nah, Si Nasi Uduk, memilih tampil naturah, hehe. Ia tak berhias warna. But, dengan kenaturalannya itu, rasa yang ia hadirkan pun cukup berkesan. Rasa yang original, menjadikan santan, daun salam, dan sereh yang disatukan dengan nasi begitu kentara saat dimasukan ke mulut. Rasanya “sopan” wkwk.


Sementara tumpeng berpenampilan lebih berani. Ia biasanya diberi pewarna alami dari kunyit. Selain membuatnya lebih cerah, rasanya pun lebih beragam dan lebih tajam. Sensasinya “nonjok” di dalam mulut. Apalagi, saat pengolahannya memakai cabe, lada, dan teman-temannya. Nah, dengan hadirnya tumpeng berwarana ungu dari ubi tadi, tentu menjadikan pembendaharaan menu tradisional yang tak lekang oleh waktu ini, semakin punya daya Tarik tersendiri. Semacam memberi “nyawa baru”.


So, setelah kenalan sama tumpeng ungu yang memberi nyawa baru itu, akankah mencobanya langsung? Yaudah pedekatean dulu deh di IG @Mamih_Ungu. Jika merasa klop, langsung aja ketemuan sama dia di resto yang ada di alamat tadi!


Hehe, thank you and See You!


Maria Ulfah
Seorang partner belajar dan bloger. Sangat menyukai psikologi, motivasi, & pengembangan diri, juga sering bergelut dengan hati. Baru-baru ini menjadi kontributor antologi cerpen "Mengeja Patah, Merangkai Hati."

Related Posts

2 komentar

  1. lucu ya ada tumpeng warnanya ungu, semoga bisa jalan-jalan ke Sukabumi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, iya.
      Aamiin, gak kebayang kalo kita ketemu di Sukabumi sambil makan ini yaa ^^

      Hapus

Posting Komentar