disuduthari header

10 Tips Bahagia Menurut Psikolog

7 komentar

10 Tips Bahagia Menurut Psikologi

Hai, hai, Sobat Pembelajar! Kali ini kita akan membahas tips bahagia menurut Psikolog. 


Btw, beberapa waktu lalu, aku pernah disuguhi materi ciamik ini tanpa memesan. Subhaanallaah, tips bahagia yang merupakan kebiasaan yang membuat kita lebih bahagia, dibagikan dengan percuma oleh Kak Jatu Anggraeni, seorang Psikolog yang diundang sebagai pemateri Writing for Healing di komunitas One Day One Post (ODOP).


Meskipun definisi bahagia berbeda-beda, tapi kenyataannya (Ssttt..) tak jarang banyak orang yang terjebak dalam kejenuhan dan kebetean luar biasa. Bagaimana untuk keluar dari jebakan itu? Yuk intip 10 kebiasaan di bawah!


Tips Bahagia Menurut Psikolog: 10 Kebiasaan yang Membuat Lebih Bahagia
poin 1 dan 2


1. Giving (memberi atau melakukan sesuatu untuk orang lain)

Waaa, kita tentu pernah memberi hadiah juga bersedekah. Bagaimana rasanya? Luar biasa ya! jiwa kita serasa terisi. Berbagi, baik materi maupun dukungan, bukan hanya membagiakan penerimanya semata.


Sensasi bahagia ini tentu balik lagi pada manusia sebagai makhluk sosial. Ia senanng tatkala diterima dan bermanfaat bagi yang lain. 'Saling',  nyatanya menjadi kata menakjubkan yang senantiasa diharapkan. So, saat kita merasa terpuruk, stagnan, dan hampa, mari berbagi tuk menciptakan bahagia. Dimulai dari berbagi senyuman, bisa? Tuh kan, dunia semakin bersinar!


2. Relating (menjalin hubungan dengan orang lain)

Ini jelas masuk akal. Seintrovert-introvertnya seseorang, tetap punya relasi di sekelilongnya. Ini sangat penting, karena bisa menciptakan kebersamaan, kenyamanan, dan dalam tingkatat lebih tinggi kebahagiaan.


Kita lihat bersama, bagaimana sebuah keluarga saling memeluk, sepasang saudara saling menggenggap, sepasang kekasih saling menguatkan, indahnya kehidupan begitu terasa. Dan tentunya ini memerlukan skill tingkat tinggi. 


Ya, dalam relasi/hubungan apapun perlu skill bersosial dan berkominikasi dengan baik, karena melibatkan dua orang atau lebih. Aku teringat sebuah pernyataan.


Be your self. But, not be selfish.


poin 3-6

3. Exercising (melakukan olahraga atau perawatan tubuh)

Ini bagian dari mencintai dan menghargai diri sendiri. Tatkala kita menerima diri kita dan merawatnya sepenuh hati, disitulah tumbuh benih-benah kenyamanan dan ketentraman.

2

Bagaimana rasanya setelah berolahraga? Bagaimana rasanya setelah maskeran atau berendam? 


Bergerak dan merawat merupakan paket komplit tuk mengadirkan kata 'bahagia'.


4. Appreaciating ( memperhatikan atau menghargai segala yang ada di sekitar)

Di poin ini, kita seakan-akan dibawa ke suatu tempat yang minim suara, minim aktifitas, minim kegaduhan (walau kenyataannya tak begitu).


Contohnya, saat kita makan dengan kesadaran penuh, kita menikmati setiap suapnya, setiap rasanya, setiap teksturnya, hingga benar-benar tercerna. Kita melakukannya dengan pelan-pelan, namun menikmati setiap prosesnya. Nah ini salah satu yang bisa kita praktikkan bersama.


Bisa juga tatkala kita tidur, bukan hanya mata saja yang memejam dan pikiran kemana-mana. Namun, mempersiapkan tempat tidur, memulainya dengan posisi yang nyaman, menutup mata tanpa tekakan, melepaskan beban-beban pikiran, nafas dalam-dalam, berdo'a yng maha kuasa hingga masuk pada alam mimpi dengan tenang.


So, hal ini simple, tapi pengaruh yang cukup signifikan. Yuk, bandingkan dengan aktifitas yang grasah-grusuh. Lebih nyaman yang mana?


5. Trying out (mempelajari hal yang baru)

Melakukan sesuatu yang baru memang membawa semangat baru. Tatkala kejenuhan mulai menghampiri, boleh jadi itu merupakan kode keras untuk diri mencari tantangan. Mempelajari hal baru merupakan salah satu kegiatan yang menantang dan seru.


Kita akan mulai beradaptasi dengan hal yang awalnya asing. Kemudian, lama kelamaan jika kita memang enjoy dengan topik yang dipelajari, bukan tidak mungkin kita malah tak bisa berhenti.


6. Dirrection (mempunyai arah dan tujuan untuk masa depan)

Ini paling 'jleb' sih, mengingat jantuk setiap aktifitas adalah tujuan. Memikirkan, merencanakan, dan melangkah menuju arah dan tujuan untuk masa depan, akan menyadarkan kita akan suatu hal. Bahwa, diri kita bukanlah untuk saat ini saja. Bukun untuk detik ini saja.


Nah, berbicara membenahi arah dan tujuan masa depan, sama halnya membicarakan action saat ini. Karena apa? Karena diri kita saat ini merupakan hasil dari diri kita yang kemarin. Maka diri kita yang esok, adalah hasil dari diri kita saat ini.


So, di titik ini kita sama-sama berjuang. Semangat!


poin 7-10

7. Resiliance (mencari jalan untuk bangkit dari kegagalan)

Waa, berkaitan dengan mindset yaaa. Kegagalan bisa mematikan, bisa juga menjadi batu loncatan. Yaps! Itu semua tergantung penyikapan kita. Mau mengambil pelajaran atau berhenti di tengah jalan? Waduh, jangan sampai ketabrak, hehe.


8. Emotion (memberikan makna yang positif)

Setiap apapun yang kita lakukan bisa dimaknai dua hal. Pertama, positif. Kedua, negatif. Saat kita fit, tentu saja yang ditersemai makna positif. Namun, saat kita sedang kacau, hal-hal di luar sana begitu melambai-lambai. Begitu gencarnya mempengaruhi di berbagai sisi.


Nah, saat itulah kita harus sabar menfhadapinya. Berhenti sejenak, simak baik-baik, dan fokus lagi pada hal positif. Memfilter berbagai rasa yang menghampiri, rasa-rasanya kegiatan wajib saat kita menginginkn kehidupan yang sehat.


9. Acceptance (menerima diri apa adanya dan merasa nyaman dengan diri sendiri)

Bersyukur yaa. Nggak neko-neko dengan hal yang tak kita punya. Berdamai dengan keadaan, nyatanya menarik berjutaketentraman.


10. Meaning (menjadi bagian dari sesuatu yang besar dari diri sendiri)

Subhaanallah. Paling nggak bisa nahan haru saat membahas ini. Bagaimana tidak? Melihat mereka yang hidup bukan untuk dirinya saja serta di dalamnya memperjuangkan sebuah visi demi kemaslahan banyak orang, sangat-sangat inspiratif.


Semoga kita semua sedang berada di jalan ini pula.


***

Alhamdulillah, tips bahagia menurut psikolog, yakni 10 kebiasaan yang membuat kita lebih bahagia sudah selesai kita bahas. Sebetulnya poin-poin judul saja yang merupakan materi dari Kak Jatu Anggraeni. So, saat ada yng keliru dari bahasannya, mohon maaf dan mari saling mengoreksi, hehe.


Thank's for attention and see you :D


Maria Ulfah
Seorang partner belajar dan bloger. Sangat menyukai psikologi, motivasi, & pengembangan diri, juga sering bergelut dengan hati. Baru-baru ini menjadi kontributor antologi cerpen "Mengeja Patah, Merangkai Hati."

Related Posts

7 komentar

  1. Ah Self Acceptance dan Self Love selalu menjadi salah satu prediktor bahagia yah Mba :). Makasih tipsnya, sangat bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Kak. Subhaanallaah... terima kasih kembali ♡

      Hapus
  2. Accpetance, masih susah nih kadang buatku :")

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, mari Kak sama-sama, bismillaah ♡

      Hapus
  3. Pernah di posisi gagal dan mencoba bangkit kembali, dan alhamdulillah Allah memberikan hadiah besar buah dari kesabaran, ita. Selamat berbahagia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Subhaanallaah, bersyukur bangrt ya Kak bisa melewatinya~
      Aamiin, hatur nuhun Kak Yonal

      Hapus

Posting Komentar