disuduthari header

Training VS Coaching, Mana yang Lebih Efektif?

4 komentar

Semangat pagi sobat pembelajar!!
Kali ini kita akan membicarakan kegiatan seru yang berhubungan dengan pengembangan diri. Walau di dalamnya memang ada sisipan motivasi, trik psikologi, dan ketulusan hati.

Training

Bagi teman-teman yang pernah atau sering mengikuti kegiatan training (pelatihan) tentu mengerti betul manfaat kegiatan ini bagi kita. Selain mengasah kemampuan, membekali keilmuan, juga membuka wawasan, kegiatan ini sering kali memupuk kembali semangat yang sempat pudar.

Trainer, panggilan untuk pembicara atau narasumbernya. Dengan pengetahuan dan pengalaman yang dikemas dengan skill komunikasi yang baik, tentu menjadikan nilai plus dari keberhasilan sebuah training.

Training ini sendiri banyak macamnya. Ada pembekalan dari sisi teori, dari sisi praktik, ada pula dari sisi semangat. Nah, kali ini saya akan sedikit sharing tentang training dari sisi semangat.

Beberapa waktu lalu, saya pernah diajak oleh beberapa teman untuk mengikuti sebuah training motivasi yang mengangkat tema "Sukses......" (karena sudah hampir setahun sampai lupa judul lengkapnya hihi maafkan).

Sudah bisa ditebak. Dalam sebuah training, tentu saja diikuti oleh banyak orang. Bahkan, di sana terdapat banyak peran. Mulai dari penerima tamu, mc, penjaga, dll. Pada intinya terdapat panitia khusus yang berperan dalam mensukseskan acara tersebut.

Dalam sebuah training, tak semua pemateri adalah orang-orang yang sudah benar-benar terkenal, maka selalu dikenalkan terlebih dahulu pemateri ini siapa, sedang meniti apa, kemudian diperlihatkan list kesuksesannya.

Tentu saja semua itu bukan tanpa alasan, karena tak semua orang mudah percaya terhadap apa yang dikatakan orang lain. Bahkan, ekstremnya ada sebagian orang yang hanya ingin mendengarkan seseorang yang menurut mereka luar biasa. Baru kemudian rasa hormat itu diberikan.

Setelah beberapa jam kegiatan seru itu berlangsung, tentu saja semangat kami seakan di recharge kembali. Dengan yel-yelnya, dengan jargonnya, dengan sesi refleksi yang menguras air mata. Sudah lebih dari cukup keberhasilan dari training ini.

Coaching

Berbeda dengan training yang sudah banyak dikenali. Kegiatan yang satu ini perlu pendekatan yang lebih. 

Jika diartikan dari B. Inggris, kata coaching dan training sama-sama memiliki arti pelatihan. Namun benarkah dua hal ini benar-benar sama?

Sekembar-kembarnya anak kembar mereka pasti ada bedanya bukan?

Begitu pula dua kegiatan ini. Jika training merupakan pelatihan dengan mengusung tema tertentu dan diikuti banyak orang, maka coaching merupakan pelatihan dengan tanpa tema, dan diikuti hanya beberapa orang saja, bahkan dalam sesi coachingnya sendiri lebih pada face to face.

Kok nggak menggunakan tema? Apakah kegiatan ini tak ada feedbacknya? Apakah kegiatan ini mengalir tanpa tujuan?

Tidak. Tidak. Tidak. Tidak begitu... justru kegiatan ini benar-benar menyuguhkan sensasi yang luar biasa bagi jiwa kita. (waaah dalam ya?...)

Entah berlebihan atau bagaimana, yang pasti kegiatan coaching ini lebih terbuka dibanding training. Lebih jujur dibanding training. Lebih merangkul dibanding training.

Beberapa waktu lalu, saya pernah mengikuti kegiatan ini. Teman sekelas saya yang menawarkannya. Memang tak terlalu banyak dijelaskan. Intinya kegiatan ini membantu kita untuk lebih mengexplore diri.

Tentu saja, untuk seorang INFJ yang dominan dengan kecerdasan intrapersonal, takkan mungkin melewatkan kesempatanan ini!

Di sana saya bertemu dengan peserta yang lain, kami dijelaskan terlebih dahulu bagaimana teknisnya oleh Coach tersebut. Coach Fauzi Ridwan namanya, sungguh sampai saat ini masih hafal.

Setiap orang di beri kesempatan untuk melakukan sesi coaching dengan dua term. Tentunya face to face dengan Coach. Kerennya, kegiatan ini tidak dibatasi waktu mengingat semua individu berbeda-beda penanganannya. Mengapa ada yang memakan waktu lama? Karena di sesi pertama adalah sesi di mana menemukan asma Allah yang ada dalam diri kita. Di situ pula perjalanan kita, permasalahan hidup kita, coba dilerai dan dimunculkan believe dalam diri kita.

Hehe sebentar, btw coaching inipun tentu berbeda-beda yaaa. Yang saya ceritakan sekarang adalah sebuah coaching dengan teknik ESQ. (hehe lupa singkatan dari apa)

Ada dua sesi. Pertama adalah sesi pemunculan asma Allah yang ada dalam diri kita, kedua adalah sesi dimana kita memfokuskan apa yang ingin kita cari jalan keluarnya. Tentunya dengan langkah-langkah yang pasti dan komitmen kita sendiri.

Pemirsa... eh teman-teman...
Euuuuh Coach di sini tidak memberikan nasehat atau masukan lho. Ia hanya menggiring kita untuk menemukan jawaban dari diri kita sendiri dengan pertanyan-pertanyaan yang dilontarkan kepada kita. Dan ini menarik!

Ringkasnya, kegiatan coaching merupakan pelatihan yang diikuti oleh beberapa orang, namun saat pelaksanaannya face to face dengan Coach. Di sini, peran orang lain tak lebih besar dari peran kita sendiri dan seorang Coach hanya membantu kita untuk menemukan jawaban yang ada dalam diri kita sendiri. Ia juga mendorong kita untuk berani berkomitmen terhadap apa yang kita pilih. Luar biasa!!

Lalu, Efektif Mana Antara Training dengan Coaching?

Jawabannya tentunya sangat personal. Ya, dikembalikan pada orang yang melakukannya. Dikembalikan pada kenyamanannya.

Bagi mereka yang lebih membutuhkan suatu keterampilan atau teori - praktiknya tanpa ribet-ribet. Tentu training lebih tepat kiranya. Sementara, bagi mereka yang lebih butuh penguatan, lebih butuh rangkulan, lebih butuh dorongan emosional, nyatanya coaching lebih dianjurkan.

Baiklah, itulah pembahasan kita mengenai training dan coaching serta mana yang lebih efektif bagi kita.

Untuk teman-teman seperjuangan, jangan menyerah menyusuri arah yaaa!! Kita tak sendiri, kita tak boleh berhenti.
Istirahat boleh, berhenti jangan.
Lelah wajar, menyerah bukan jawaban.
Sampai ketemu lagi...

Maria Ulfah
Seorang partner belajar dan bloger. Sangat menyukai psikologi, motivasi, & pengembangan diri, juga sering bergelut dengan hati. Baru-baru ini menjadi kontributor antologi cerpen "Mengeja Patah, Merangkai Hati."

Related Posts

4 komentar

  1. Coaching keren banget, menggali sisi diri yang ada asma Allahnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kak, ada sisi religiusnya bikin "adem"~

      Hapus
  2. Wah saya baru tau ternyata ada bedanya ya mbak, saya belum pernah ikut coaching soalnya 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi ada Kak, walau gak banyak bedanya~

      Hapus

Posting Komentar