DUA TAHUN

24 komentar

Jika boleh, ingin kuusir saja dirimu. Jika bisa, ingin kuhempas jauh ragamu.

Dua tahun, nyatanya belum cukup untuk mengakrabkan kita. Telinga ini masih enggan mendengar namamu. Tangan ini masih malas menyentuh tubuhmu. Mata ini, pikiran ini, hati ini seringkali terpaksa menerima keberadaanmu. Entah mengapa.

Entah mengapa, bercengkerama denganmu membuatku lelah. Aku sering meringis, mengeluh, menolakmu habis-habisan, tapi tak bisa kutunjukkan. Realita menamparku dan berkata bahwa "kalian harus tetap berhubungan!" "Ah... harus kutelan pil pahit ini beberapa waktu lagi."

Kamu tak salah. Meski di tubuhmu diselimuti berbagai permasalahan, hadirmu ada baiknya. Ada yang salah denganku, aku yang belum bisa beradaptasi denganmu. Yaa... meski di hadapan dunia yang terlihat hanyalah kebersamaan, bahkan kemesraan kita.

Dua tahun bukan waktu yang sebentar dan di saat yang sama, ini pun bukan waktu cukup lama. Kau tahu? Kamu belum kuterima sepenuhnya di hidupku. Namun, banyak warna yang kau goreskan, meski hanya kelabu yang terlihat di permukaan.

Di bilik kesadaran, aku menangis. Aku sungguh miris. Bisa-bisanya sosok sebaik dirimu kuperlakukan dengan sadis. Hanya karena tak suka pembawaanmu, aku mendiamkanmu. Tak logis.

Setelah berbulan-bulan kita tak bertemu, beberapa hari ini mereka menyuruhku untuk bekerjasama denganmu. Merajut suatu pesan yang akan kau emban. Lagi-lagi, kututupi perasanku rapat-rapat. Diantara kita, biarkan hubungan baik yang terlihat.

Di detik ini, aku lega dan bahagia  telah merapungkan project yang kita lakukan. Dengan begitu, kita akan berpisah (walau sebentar). Sungguh, dari lubuk hatiku, suatu saat nanti, aku berharap lega dan bahagiaku ini karena telah beriringan denganmu. Bukan berpisah denganmu.

Aku takkan berjanji akan benar-benar suka padamu. Yang pasti, aku mau berusaha lebih melihat sisi baikmu, dengan begitu semoga saja tak ada rasa benci atau penolakan yang berlebihan lagi. Setidaknya kita bisa menjadi teman. "Tak apa kan?" 

"Terimakasih yaaa. Aku mau istirahat dulu. Daaah." - Tugas Makalahku -

Maria Ulfah
Seorang pembelajar sepanjang hayat yang menyukai Psikologi, Motivasi, dan Pengembangan Diri, juga sering bergelut dengan 'Hati'.

Related Posts

24 komentar

  1. Jadi ini tugas makalah?
    Ckckckc
    Mantap

    BalasHapus
  2. bagusnya, pemakaian diksinya juga cakep banget nih!

    BalasHapus
  3. makalah.. oh makalah. kukira apakah... :)

    BalasHapus
  4. Padahal dari awal saya baca udah serius. Ternyata yang dimaksud ini adalah tugas makalah ya? Hahaha. Bagus, Kak. Kata-katanya mengalir, nggak kerasa sampai akhirnya ada plot twist :'D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaa begitukah? Aamiin. Hehe makasih dan maaf

      Hapus
  5. pemakaian diksi nya udah keren nih mbak, semangat terus yaa! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terimakasih...
      Siap. SEMANGAT!! Kakak juga yaa~

      Hapus
  6. Balasan
    1. Waduh, tak ada niatan nipu padahal ehehe

      Hapus
  7. MaasyaAllah luar biasa kak kata2 nya..... Hem, sungguh tak bisa ditebak hehehe.....

    BalasHapus
  8. kaget baca diakhir tugas makalah... tak terduga tapi pemakaian diksinya bagus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pas baca ulang kaget juga><
      Makasih...

      Hapus
  9. Plot twist.. wkwkwk..kirain siapa, ternyata apa. Lanjutkan!

    -purnama indah-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya memang bukan siapa, tapi apa^^ Siap. Laksanakan!

      Hapus
  10. Keren ih... Aku sambil baca tu sambil menebak-nebak ininapa dan siapa 😁😁😁😁 Mantul kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asiik ada yang nebak-nebak^^
      Aamiin, makasih~

      Hapus
  11. Di awal aku baper, taunya makalah... Hihi
    Kerennn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah wah ketemu yang suka baper juga hihi... Aamin

      Hapus

Posting Komentar

Follow by Email