INI BUKAN TENTANGKU

4 komentar


Di tengah hari, di sudut waktu, suara kita beradu. Membawa duka masing-masing, walau tak pernah bising.

Tak jarang tawa menjadi salam pembuka, darimu yang bersembunyi di baliknya. Kejujuran tak bisa lepas darimu. Komunikasi yang pas senjata terbaikmu.

Dini hari, telingaku dimanjakan. Mimpi apa aku semalam? Bisa-bisanya dihadirkan hal semanis itu, saat mentari pun masih malu-malu mempercantik langit biru.

Tak banyak yang diceritakan. Tak ada pula yang menjadi kesimpulan. Semuanya mengalir dan seperti tahu tujuan. Berhenti, jika sudah sampai.

Seperti biasa, senyumku tertarik hadir. Bahkan kali ini, ia enggan menyingkir. 

Tak hanya di dunia nyata, di alam mimpi saja yang menjadi pemeran utama masihlah Kamu. Di sana, hal buruk menyenggolku, tak perlu ditanyakan lagi siapa orang pertama yang menjadi peraduanku. Sungguh, Kamu, Kamu, dan Kamu.

Bagaimana mungkin aku menghilangkan rasa takut? Bagaimana mungkin aku berdiam diri saat sedihmu akut? Setidaknya, aku perlu ada walau sedetik saja. Setidaknya, aku berusaha walau hasilnya tak pernah sempurna.

Semangatku, banyak terpompa oleh segala hal tentangmu. Dan ada keinginan juga, hal kecil dariku, bisa sedikit mengembalikan semangatmu.

Kutahu kamu kuat. Kamu sabar, kamu tegar. Tak pernah ingin merepotkan orang lain, tak ingin berhutang budi pada yang lain. Namun perlu kamu tahu, di sini tak banyak yang kusuguhkan, walau begitu, semoga saat kembali, ada sedikit spirit yang kau bawa pergi.

Baik-baik di sana. Tak perlu ragu, aku percaya padamu.
Lakukan yang terbaik seperti biasanya, masalah pertemuan kita, biarkan alami, tanpa agenda.
Maria Ulfah
Seorang pembelajar sepanjang hayat yang menyukai Psikologi, Motivasi, dan Pengembangan Diri, juga sering bergelut dengan 'Hati'.

Related Posts

4 komentar

Posting Komentar

Follow by Email