disuduthari header

Ulasan Cerpen Wanita Setengah Berpeci

4 komentar

 

Hai ODOPers! Hai Sobat Pembelajar!

Ada yang hobi baca cerpen? Yaps! siapa yang tak kenal ia, karya tulis satu ini begitu popular di tengah-tengah kita. 

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas sebuah cerpen berjudul "Wanita Setengah Berpeci" karya Selvi Febriani yang berhasil dipublikasikan di ngodop.com. Tentu saja bagi warga ODOP, terpampangnya karya kita di sana merupakan suatu kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri. Jadi, terlebih dahulu kuucapkan "Selamat teh Slepi! Semakin keren aja niii"

Eh kok so kenal banget yaa? wkwk. Tenang, kami ini satu kampus, sama-sama ikut ODOP tahun kemarin, dan sama-sama kenal ODOP dari bu Iviet di Kelas Menulis Perpustakaan (KMP) batch #2 Sukabumi tentunya.

Sebelum lanjut ke ulasan, mari kenalan dulu sama penulisnya. Biar makin makin pas baca.

Selvi Febriani adalah kelahiran Sukabumi, 26 Februari 1999 yang sedang berusaha menggeluti dunia kepenulisan di komunitas One Day One Post (ODOP) bacth 7. Peserta kelas fiksi ODOP ini memiliki harapan besar agar tulisannya dimuat di media atau bahkan dibukukan. Selain anggota ODOP, ia aktif di Kelas Menulis Perpustakaan (KMP) bacth 2 di kota kelahirannya, Sukabumi. Ia pun tercatat sebagai mahasiswi di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Masthuriyah Sukabumi dengan mengambil prodi Pendidikan Agama Islam (PAI). Pembaca dapat bersilaturahmi dengan penulis melalui beberapa akun berikut; Instagram: slvfebrn, facebook: slv febrn dan blog pribadi: slepifebrn.blogspot.com atau e-mail: slvfebrn@gmail.com.

Sudah yaa. Btw, judul di gambar dibaca belum? "Wanita Setengah Berpeci, Masihkah Bermain Api?"

Okay, mari kita kupas unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik dari cerpen ini.


Unsur Intrinsik Wanita Setengah Berpeci


A. Tema

Menurutku, tema yang diangkat penulis di cerpen ini ialah "kisah romansa tak lazim yang mampu menggetarkan hati"

B. Tokoh dan Penokohan

Qanita Anindia, pemeran utama dengan karakter yang kuat. Begitu menarik perhatian sebab digambarkan sebagai seorang waria yang nama aslinya Qomar Anandito. Tak disangka, ternyata ia lahir di tengah lingkungan yang agamis. Sifatnya peduli, penyayang, ceria, dewasa, walau memiliki trauma tersendiri.

Kenna. Tak kalah nyentrik dengan pemeran utama, gadis yang satu ini punya latar belakang berkebalikan dari Qanita atau Qomar. Selain gadis tomboy, anak punk, lahir di lingkungan yang dikelilingi unsur kekerasan, ia juga hilang ingatan dan kakinya lumpuh permanen. Sifatnya ceria, agak kasar, keras kepala, namun hatinya begitu lembut.

Mami Tiwi. Memang tak dihadirkan sosoknya, tapi seorang penggagas grup dangdut ini diceritakan tak pernah memaksa setiap pekerjanya. Qamar yang menjadi Qanita atas pilihannya sendiri merupakan salah satu pekerja di sana, meski bukan pekerja tetap.

Ustazah Masyita. Ia disebutkan di akhir cerita. Walau tak tersorot dan tak diberi kesempatan berdiaolog, ia digambarkan sebagai sosok yang memiliki tanggung jawab.

C. Alur

Menggunakan alur maju. Diawali dengan mengenalkan latar cerita, kemudian diperkenalkan dengan tokoh yang ada di dalamnya satu per satu. Konflik mulai muncul ketika dialog yang renyah dihadirkan. Cerpen mulai bergulir seru tatkala atap rumah tua itu roboh dan Qanita turun tangan menangani kekacauan, sementara Kenna dengan kakinya yang sudah tak bisa diajak bekerjasama selamanya itu ingin membantunya, justru tak sengaja menumpahkan air ke buku harian Qanita. Diakhiri dengan ending yang cukup twist tentang kemungkinan apakah pemeran utama akan kembali ke fitrahnya atau tidak.

D. Latar

Mengambil setting tempat di permukiman kumuh di pinggiran kota. Nampak rumah-rumah di sana telah tua, bahkan tak berpintu.

Sementara latar waktu terjadi pada malam hari saat turun hujan.

Latar suasana cerpen ini cukup mencekam, namun penulis memberikan sentuhan rasa yang unik. Di tengah situasi serba kekurangan, nyatanya tokoh dalam cerita tak merasa serangsara, justru mereka menjalani segalanya dengan balutan keceriaan dan kasih sayang. Banyak pula momen haru yang dihadirkan di cerpen ini. 

E. Sudut Pandang

Cerpen ini menggunakan POV3 (Point Of View III/sudut pandang orang ketiga).

F. Gaya Bahasa

Gaya bahasa yang digunakan sastrawi. Ini terlihat jelas dari majas yang dipakai untuk menggambarkan keadaan. Selain penggunaan majas, cerpen ini memiliki daya tarik pada dialog yang hidup. Sehingga, memiliki warna tersendiri dan mentransferkan rasa khusus ke pembaca.

G. Amanat

Banyak amanat yang bisa diambil dari cerpen ini di antaranya:
• Strata sosial seharusnya tak mempengaruhi tingkat kebahagiaan, karena kebahagiaan itu sendiri terletak pada sikap kita terhadap apa yang kita punya.
• Kedepedulian sekecil apapun begitu bermakna bagi seseorang yang memerlukannya. Bahkan, bisa merubah hidup orang itu secara keseluruhan.
• Saat berkomunikasi kita perlu melihat background dari lawan bicara kita. Dengan begitu, kita akan lebih paham alasan mereka berperilaku dan bisa memakluminya tanpa merasa tersinggung. Lalu, hal itu pun menjadi dasar bagi kita menjalin komunikasi yang baik dengannya.
• Kecenderungan kita bersikap sangat dipengaruhi pengalaman masa lalu. Jika saat ini ada hal yang kurang baik dari diri kita, kembalilah sebentar ke masa itu, sudahkah makna positif yang kita ambil?
• Fitrah yang melekat pada diri seseorang sejak lahir, tak bisa benar-benar berganti hanya karena penampilan dan pernyataan. Walaupun sudah banyak kasus berganti jenis kelamin, tetap saja di hadapan yang Maha Kuasa hal itu tidak dibenarkan.
• Rasa cinta yang muncul pada diri seseorang pada kenyataannya terjadi karena sebuah proses. Entah itu alami, atau pilihan. 
• Sebuah rasa tak memandang usia, penampilan, dan lainnya. Namun, ia menjadikan pemiliknya dengan sukarela melibatkan diri dan berkontribusi dalam hidup Si Penanam rasa.

Unsur Ekstrinsik  Wanita Setengah Berpeci


A. Latar Belakang Masyarakat

Diskriminasi terhadap golongan tertentu, masih ada penilaian masyarakat yang keliru, juga penyikapan yang kurang tepat terhadap suatu hal, menjadi alasan yang cukup kuat bagi penulis untuk menyampaikan pandangannya dari kejadian tersebut. Maka dibuatlah cerpen sebagai sarana penyampaian pesan.

B. Latar Belakang Penulis

Selvi Febriani, seorang penulis muda dengan background pesantren yang pembawaannya ceria, tentu saja memberi sentuhan agamis yang segar pada cerpen ini. Terlihat pula sisi pribadi penulis tumpah dengan sendirinya. Bagaimana ketika berbicara pesantren tahfiz impian, kisah romansa yang menghanyutkan, dialog renyah yang tak bisa terlepas dari keseharian, dan hal yang lainnya.

C. Nilai yang Terkandung di dalam Cerpen

Nilai-nilai yang muncul dalam Wanita Setengah Berpeci diantaranya adalah:

Nilai Agama: secara tersirat di dalam cerpennya, penulis mengangkat nilai bahwasanya manusia memiliki fitrah dari Allah swt sejak lahir yang seharusnya tidak boleh diganggu gugat. 

Nilai Sosial: penulis nampaknya ingin menyampaikn bahwa jika terjadi penyimpangan sosial di sekeliling kita maupun diri kita sendiri, tetap saja rasa saling mengasihi perlu dijunjung tinggi. Rasa saling mengasihi inilah yang kemudian menyentuh kesadaran seseorang, karena merasa diperlakukan sebagaimana layaknya manusia.

Nilai Moral: cerpen ini memberi pandangan baru bahwa pengalaman kelam yang dilakukan seseorang tak selamanya menjadikan ia hancur dan terus terlena melakukan hal tak benar. Justru, adakalanya dijadikan pembelajaran dan melecut seseorang menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Nilai Budaya: pandangan masyarakat terhadap waria dan anak punk, yang cenderung dilihat sebelah mata, bahkan dianggap sebagai sampah masyarakat nyatanya tetap memiliki sisi indah bak mutiara. Menemukannya perlu ketelatenan, niat, dan upaya.

Baiklah, itu dia ulasan cerpen "Wanita Setengah Berpeci."Penasaran dengan cerita aslinya? Atau mau baca cerita yang lainnya? Boleh banget nget nget nget kepoin ngodop.com yaaa. Kali aja ketemu jodoh (eh) maksudnya ketemu jodoh tulisan kita mau dibawa ke mana hehe.
Verba volant, scripta manent
See you~


#OneDayOnePost
#ODOP
#ODOPChallenge6

Maria Ulfah
Seorang partner belajar dan bloger. Sangat menyukai psikologi, motivasi, & pengembangan diri, juga sering bergelut dengan hati. Baru-baru ini menjadi kontributor antologi cerpen "Mengeja Patah, Merangkai Hati."

Related Posts

4 komentar

  1. MasyaAllah, ulasannya keren banget. Terimakasih kak Mulfa sudah mau mengulas cerpen saya si pemula ini. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Adu duuu pemilik karyanya hadir di sini ♡

      Aamiin. Terima kasih kembali~

      Hapus
  2. Tadinya aku mau ngulas cerpen ini. Keren ulasannya. Aku juga suka cerpennya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hoalah sehati kita ehehe. Aamiin.
      Yups, mampu menghanyutkan perasaan~

      Hapus

Posting Komentar