disuduthari header

RAHASIA DI BALIK DRAMA

Posting Komentar

Sumber gambar: pixabay

Ini aku, bukan kamu.

Ini aku, bukan dia.

Ini aku, bukan mereka.

Jika benar-benar aku yang kau ajak bicara, mengapa dengan tega kau seakan membandingkan segala hal tentangku dari standar ideal milikmu?


Seingatku... tak pernah kupenuhi telingamu dengan kisah dari sosok yang lain. Namun tenang. Disini, aku sadar. Ku tak lakukan itu, bukan karena tak kuasa. Namun pertama, kau teramat hebat dari hal apapun yang kutemui seumur hidup. Kedua, kau membuatku hanya terfokus pada segala hal tentangmu, sampai kurela diri ini diperlakukan apapun oleh seisi dunia. Asalkan bersamamu.


Kau berkata


"Maaf telah menyakitimu"


Dan kau tahu? Saat itu juga kupersembahkan bucket 'terimakasih' pada diri ini. Diri yang tetap bertahan walau segalanya terkadang tak karuan. Jujur saja, padamu aku melemah. Karenamu, kuenyahkan kata 'menyerah.'


Kau harus tahu


"Rasa sakit saat kau bercerita tentangnya bukanlah salahmu. Kuambil peran tanpa sadar. Saat itu, kepercayaan diri sedang memudar."

Maria Ulfah
Seorang partner belajar dan bloger. Sangat menyukai psikologi, motivasi, & pengembangan diri, juga sering bergelut dengan hati. Baru-baru ini menjadi kontributor antologi cerpen "Mengeja Patah, Merangkai Hati."

Related Posts

Posting Komentar