TOPLES SPESIAL DI TEMBOK BIRU

2 komentar

Sebuah potret berhasil mengambil alih fokusmu. Kau termenung     menyandarkan diri ke tembok biru beberapa saat. Di situasi itu, bayangan tentangnya memenuhi rongga ingatan. Bahkan, sesuatu yang buruk berlalu lalang.


Kau menoleh berkali-kali, tapi sayang tak ada seorang pun yang bisa diajak diskusi. Sungguh, hanya setitik daya yang tersisa. Kau paham betul, hingga saat ini, jarak masih menjadi momok nomor satu.


Kekhawatiran akhirnya menjalar ke seluruh tubuh. Untung saja Kau masih sadar, segala asa tak pernah bernar-benar luruh. Maka dengan segenggam keberanian yang Kau susun rapi, Kau buka sebuah toples di dekatmu.


"Insyaa Allah ini pahit yang berujung manis"



Aneh. Kau tak pernah berlaku seperti ini pada yang lain. Ia satu-satunya orang yang menculik sebagian harimu ke pelukannya. Ya, ia orang sakti. Ia seseorang yang dengan potret benda padat berwarna hijau sebesar ujung jari bayi tergeletak di telapak tangannya saja, mampu memorakporandakan kestabilan hati.


 "Syafakillah"


Tuturmu menutup toples itu.

Maria Ulfah
Seorang pembelajar sepanjang hayat yang menyukai Psikologi, Motivasi, dan Pengembangan Diri, juga sering bergelut dengan 'Hati'.

Related Posts

2 komentar

  1. Aaaa... baperr, auto ngebayangin.. hiihi

    Jarak memang suka bikin kesel, andai bisa ingin aku potng saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, 'jarak' kadang kala bikin naik darah juga. Hihi

      Hapus

Posting Komentar

Follow by Email