Pembelajaran Daring; Senang atau Beban?

Posting Komentar

 

pembelajaran-daring-senang-atau-beban

Sampai saat ini, pandemi Covid-19 masih merajai penjuru negeri. Efeknya pun masih begitu terasa di segala sektor, tak terkecuali sektor pendidikan.


Sudah menjadi rahasia umum, bahwa pembelajaran daring menjadi pilihan di situasi ini. Salah satu kebijakan yang dilakukan pemerintah adalah diterbitkannya Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan dalam Masa Darurat Corona Virus Disease (Covid-19). Pembelajaran dari rumah yang dilaksanakan secara mendadak atau jarak jauh untuk berinteraksi dan terjadinya penyebaran Covid-19, merupakan salah satu pokok dalam edaran tersebut.


Dari laman Medco Foundation, hingga Mei 2020, seluruh lembaga pendidikan pada semua jenjang baik pendidikan dasar hingga menengah melibatkan 3,3 juta guru dan 52, 9 juta peserta didik, serta perguruan tinggi telah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kondisi masing-masing.


Kita dapat melihat sendiri bagaimana pembelajaran daring memengaruhi banyak pihak. Mulai dari guru-dosen, siswa-mahasiswa, dan orang tua.


Di jenjang pendidikan dasar, seorang siswa tentu memerlukan bimbingan dan pengawasan yang lebih dari orang tua. Ibu atau lebih luwes dipanggil emak, paling dominan merasakan hal ini. Bagaimana mengatur ritme kegiatan sehari-sehari dengan tugas yang tiada henti, sekarang ditambah lagi dengan membantu proses mensukseskan proses belajar anak-anaknya.


Siswa di pendidikan menegah pada umumnya sudah lebih mandiri. Apalagi, kebanyakan sudah berkawan dengan smartphone dan jaringan internet. Namun, tentu saja orang tua harus tetap mengawasi.


Mahasiswa yang notabenenya di jenjang pendidikan tinggi atau perguruan tinggi, tentu saja sudah seharusnya bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Pelaksanaan belajar via jejaring menjadi suatu daya kejut dan bahan untuk mengasah daya kritis bagaimana memecahkan permasalahan yang ada mulai dari lebih terjun lagi ke dunia digital, membangun komunikasi yang tetap efektif, dll.


Paparan di atas baru penggambaran, karena nyatanya semua tergantung individu dan lingkungan yang mengelilinginya.


Perlu digaris bawahi, selain formalitas semata, belajar tentu saja melibatkan emosi. Fisik dan psikis terus bergandengan di segala keadaan. Seperti yang dikatakan Bob Pike (Creative Training Techniques) bahwa:

Pembelajaran berbanding lurus dengan kesenangan orang yang belajar.

Nah, saat proses belajar sudah terasa berat dan menjadi beban, perlu kiranya refreshing sejenak memulihkan keadaan. Mencari makanan dan minuman favorit menjadi salah satu jawaban. Bagi yang suka minuman kekinian, dalgona coffee dan boba pasti pernah dicoba. Bagi yang suka minuman tradisional, cendol dan dawet banyak menjadi rebutan.


Akhir kata, pembelajaran daring dapat menyenangkan atau menjadi beban tergantung yang menjalaninya. Yang pasti, kita punya tanggung jawab masing-masing, entah sebagai pendidik, pengajar, pengawas, pengarah, pembelajar, dll.

Maria Ulfah
Seorang pembelajar sepanjang hayat yang menyukai Psikologi, Motivasi, dan Pengembangan Diri, juga sering bergelut dengan 'Hati'.

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email