disuduthari header

Menyikapi Titik Pahit dari Rasa Manis

22 komentar

     Komposisi cerita bukanlah satu rasa. Namun kata 'kita', mampu menghalau jebakannya.


Senyum hadir, bukan berarti tak pernah ada getir. Tawa menyeringai, bukan berarti tak ada kecewa yang tersemai. Hal manis mendominasi, tak berarti hal pahit tak tersisa sama sekali.


Nyatanya, di satu titik, kepahitan itu punya tempat yang tak tergantikan.


Saat memandangnya, perasaan tak karuan, air mata tak tertahan, segala yang ada berubah sendu seketika.


"Siapa yang salah?" Tak boleh ada pertanyaan itu.


Dalam setiap hubungan, akan ada satu titik yang berakhir luka. Entah nyata atau delusi semata, yang pasti jangan terfokus di sana.


Kita telah melalui banyak hal. Didewasakan oleh banyak keadaan. 'Saling', kita usahakan. Maka, jika masih ada hal yang kurang relevan, itu hanyalah bagian dari pembelajaran.


Benar. Kita tak boleh lupa. Kita takkan pernah bisa lupa. Hal pahit biarkan di sana. Sesekali kita tengok, agar tak terlena oleh keadaan yang terlihat elok. Ia punya tujuan baik, meski perasaan ikut tercabik.


Sungguh, pernyataan: "Kau penenang. Kau tempat kembali" adalah hal termanis yang perrnah diterima  indera pendengaran ini. 


"Kau yang paling mengerti. Kau yang membuatku mampu menapaki hari" itulah pernyataan yang datang di sela pendengaran.


Dengarlah... Meski air mata pernah jatuh, meski asa pernah luluh lantak, meski hari pernah berjalan tiada berseri, kesemuanya tak menjadi alasan untuk berhenti.


Membayangi. Membersamai. Mengukir makna di hidup ini.


Kau yang membuatku sadar, bahwa cerita tak berdiri hanya dengan satu rasa. Cerita yang utuh adalah meski rasa mengeruh, raga menjauh, rasa sakit seakan membunuh, tapi inti dari segalanya tak pernah benar-benar luruh.


'Kita', kata yang tak mau lenyap sampai kapanpun juga. Rehatlah dulu. Mari melerainya saat bertemu.

"See you"

Maria Ulfah
Seorang partner belajar dan bloger. Sangat menyukai psikologi, motivasi, & pengembangan diri, juga sering bergelut dengan hati. Baru-baru ini menjadi kontributor antologi cerpen "Mengeja Patah, Merangkai Hati."

Related Posts

22 komentar

  1. Cerita utuh dengan semua rasa yang ada.

    BalasHapus
  2. Cerita tak berdiri hanya dengan satu rasa. Iyes, bener banget inii

    BalasHapus
  3. Padanan kata-katanya uwow sangat kak😆betul tuh, rehat dulu sejenak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Iya begitu, jangan sampai kelelahan~

      Hapus
  4. Hemmm ... indah memandang hari senin ... baca ini bikin semangat ...

    BalasHapus
  5. Manis banget..
    Keren banget deh..

    BalasHapus
  6. Suka kalimat ini : cerita tak berdiri hanya dengan satu rasa ... Kesannya gimana gitu dalem 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya intinya memang di situ, peka sangat ♡

      Hapus
  7. pemilihan kata-katanya udah apik banget ini mbak, hehe, semangat terus nulisnya mbak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih, Kak. Iyaps, semangat juga yaaa

      Hapus
  8. bener banget yak, sebuah cerita tak berdiri hanya dengan satu rasa. cerita ada karena kombinasi beragam rasa

    BalasHapus
  9. Syukak tulisannya. Pokoknya amazing. Kata yang di ingat "Rehatlah" uwuw banget kak

    BalasHapus
  10. Suka diksinya, enak banget gitu dibacanya

    BalasHapus

Posting Komentar