disuduthari header

Pergi Ke Pantai Apa Ke Gunung? (Part 2) - Dibalik Sesuatu

4 komentar


 Selang beberapa jam, akhirnya mereka semua benar-benar kumpul di sebuah GOR dekat kampusnya. Termasuk sosok yang mengirim pesan berbau tipuan tadi pagi.


Seperti biasa, semua kembali normal karena perempuan yang kesal tadipun telah mereda perasaannya. Apalagi, teman-teman sekelasnya ini benar-benar punya skill menghilangkan kesedihan uuuuuu.

Yap!, mereka kocak, alay, gaje (gajelas), tapi bikin nyaman eaaaaa.

"Fah, kamu naik apa?"
"Mending naik motor yuuuk"
"Mending naiik mobil, seru..."

Begitulah suara yang melambai-lambai di telinga.

Mengingat mereka bersama akang (sebutan untuk guru-dosen di lingkungan itu), maka ada keuntungan tersendiri tentunya. Salah satunya tumpangan "gratis" (eh).

"Ayoooo naik mobil aja teh!" Ajak teman perempuannya pada sosok yang kebingungan. 

"Iya deh" ucapnya menerima ajakan itu.

Tiiiiid.... tiiiiiiddd.....
(Berangkatlah rombongan ini dalam rangka refreshing ke sebuah pantai di arah selatan).

Belum setengah perjalanan, beberapa orang berhamburan ke sebuah mini market untuk membeli beberapa makanan ringan. Tak seperti yang lain yang dengan gegap gembita keluar dari mobil itu, seseorang berinisial MU malah memperlihatkan keadaan yang begitu miris dilihat.

Badan melemah, mata sayu, pandangan tak berarah, suara disembunyikan, dan kata-kata yang keluar hanyalah,

"Minuuuuum... minummmmm.... ada yang punya minum???"

(Tak peduli apapun lagi, ia mencari sebotol minum dengan sisa energi).

"Iniii, minumlah!" Tawaran dari sosok pengirim pesan yang pernah ia buat kesal.

Laki- laki itu menonton orang yang sedang mual sambil tertawa terpingkal-pingkal! Meski menyebalkan dan kadang risih, namun tetap saja dia orang baik yang peduli dan punya hati nurani.

Merasakan sensasi bak dipenjara dengan racun yang tersebar dimana-mana. Perempuan itu akhirnya meminta temannya yang lain untuk roling. Ya, ia merasa tak kuat lagi harus menahan atmosfer mobil dengan AC dan pewangi yang menurutnya tak wangi sama sekali.

Melihat perempuan yang lemas itu, temannya dengan suka rela bersedia.

Berlanjutlah perjalanan mereka. Satu mobil dengan 8-9 motor di depan dan di belakangnya.

Setengah perjalanan telah berlalu, perut mereka mengadu. Ya, sudah saatnya makan siang. 
"Kita makan siang dimana?"

Teman-teman yang lain dengan sengaja telah menjapri perempuan tadi. Perempuan yang menggadaikan ketenangannnya pada perjalanan ini.

"Gimana fah? Di rumah udah siap?"
"Udaaah, tadi Ulfah udah kontekan sama orang rumah"
"Ok... kira-kira rumah Ulfah jauh gak dari pantai?"
"Hehe lumayan"
"Mmmmmmmm..." (temannya yang bertanya mulai ragu harus benar-benar ke rumahnya atau tidak).

"Yasudahlah... berangkat aja dulu!! Kasian kalo kita gak kesana udah cape-cape nyiapin di rumahnya..." Teriak seorang laki-laki yang menjadi sangat bijak saat bertemu situasi semacam ini. Laki-laki ini memang cukup dewasa dibanding Si Iseng pengirim pesan, namun dalam keseharian ia seakan menyembunyikan sisi tersebut. 

Setelah hampir tiba di pantai yang mereka tuju, karena dorongan perut yang terus mengeluh, merekapun melewatkan pantai itu untuk makan terlebih dahulu di rumah perempuan tadi.

Awalnya semua berjalan lancar, namun saat waktu dan keadaan yang saat itu membersamai, akhirnya terjadi situasi yang sedikit tak terkendali.

"Fah masih jauh gak???"
"Ini jalan atau apa?"
"Astaghfirullaaah, laaa ilaaaha illallaaah..."

Kalimat-kalimat tersebut terus berulang. Ada teman kami yang hampir saja mojok eh mogok. Ada akang yang sudah di depan, bahkan terlalu depan sampai jauh dari rombongan motor yang lain. Ada juga yang belum terlihat batang hidungnya.

"Benar-benar perjalanan panjang dan melelahkan" ucap salah teman yang mulai kelelahan.

Wajar saja, lebih dari setengah jam dari bibir pantai belum juga terlihat tanda-tanda rumah perempuan itu ditambah lagi jalan yang mereka lalui bak sungai yang mengering. Batu-batu masih menganga di sana-sini karena perbaikan jalan baru akan di lakukan beberapa saat lagi.

Saat situasi serasa kacau dan mengikis semangat mereka, sebuah pemandangan indah memanjakan mata - menggoda mereka untuk turun bersua foto menikmati keindahannya.

TM (Tanah Merah), sebuah spot foto di pinggir jalan yang notabenenya berada di gunung dengan background pemandangan pegunungan dan laut serta langit yang serasa bergabung menjadi satu.

Seperti yang dibayangkan, hal itu akhirnya mampu melerai dan sedikit melupakan perjalanan panjang dan berliku yang mereka  alami. 

(Senyum terlukis dari perempuan yang berinisial MU tersebut).

"Waaaaaa ayo-ayo foto!"
"Merapat... merapat...."
"Rapikan!"
"1, 2....."
"1, 2....."
Akhirnya beberapa dokumentasi dari perjalanan ini didapati (meski perut belum juga diisi).

Laki- laki itu menonton orang yang sedang mual sambil tertawa terpingkal-pingkal! Meski menyebalkan dan kadang risih, namun tetap saja dia orang baik yang peduli dan punya hati nurani.



Maria Ulfah
Seorang partner belajar dan bloger. Sangat menyukai psikologi, motivasi, & pengembangan diri, juga sering bergelut dengan hati. Baru-baru ini menjadi kontributor antologi cerpen "Mengeja Patah, Merangkai Hati."

Related Posts

4 komentar

  1. Ahahahah ya ampuuun... terimakasih lo untuk satu-satunya yang hadir disini.(ehehehe)

    (BTW gak dilanjut ah, lagian masih belum mateng)

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Posting Komentar