Ngantuk, Lemas, Lapar. Datang dari Mana Mereka?

2 komentar

Malam tadi, Si Ngantuk datang tanpa diundang. Ketuk pintu. Pintunya belum dibuka udah masuk aja. Iya sih, memang gak dikunci juga hemmm. Setibanya di rumah dia mepet-mepet terus. Kucoba menjauhinya, kucoba menyibukkan diri dari bersinggungan dengannya, tapi ia bersikeras mendekatiku bagaimanapun keadaannya.

"Aku risih! Tahu risih kan?" Kulontarkan kata-kata padanya. Namun ia tak bergeming dan malah lebih energik lagi menggangguku dengan ini itu. "Sungguh, watak apa yang kamu punya wahai Ngantuk?!!"

Itu perihal malam tadi, malam yang akhirnya aku jatuh juga di pelukan Si Ngantuk.   Kini, kita bicara saat ini. Uuuuu luar biasa! Si Ngantuk pergi, Si Lemas datang.

"Mau apa kamu Lemas?!" Nadaku yang lumayan ngegas. Ia hanya melihatku dengan tatapan kosong dan semakin mempengaruhiku seakan melancarkan upaya hipnotis. Sungguh tak beradaya aku dibuatnya. 

Selang berapa lama, Si Lemaspun merasakan lemas. "Ahahahah dasar Lemas yang malang..." ucapku dalam hati. 

Setelah itu muncul Si Lapar. Ia mencolek tubuhku dari pinggir, ia menyelimuti pikiranku dengan hal-hal yang menurutku picik. "Ish kau niii, mau apa kamu? Tidakkah kamu tahu aku malas menyuap nasi?!" Aku marah padanya. Akhirnya iapun pergi dengan wajah tertunduk.

"Waaaah... akhirnya mereka semua pergi dari hariku. Legaa.... rasanya..."

"Namun, sekarang bagaimana? Sudahkah kamu senang?" Ucap bayanganku sambil memandang.

"Tidak. Mengapa rasanya hampa ya? Aku merasa bersalah pada Si Ngantuk, Si Lemas, apalagi Si Lapar"

"Mengapa?"

"Iya... aku merasa bersalah karena mereka datang bukan tanpa diundang seperti asumsiku di awal, tapi mereka datang mendengar kata hatiku. Aku sedih sekarang..."

"Sudahlah... semuanya akan baik-baik saja. Tak perlu terlalu menyesali banyak hal. Mereka pasti mengerti mengapa kamu melakukannya. Bukankah kamu sekarang memiliki tugas? Makalah, memposting satu tulisan dalam satu hari, dan melakukan pekerjaan rumah sesekali hihi"

"Hmmmm iya... terimakasih yaaa bayangku. Kamu banyak mengingatkan aku. Kini, aku hanya ingin lebih menghargai keberadaan mereka. Aku akan jelaskan dengan baik-baik mengapa kutak ingin bercengkerama dengan mereka saat itu.... Sekarang boleh yaaa aku istirahat sebentar?"

"Iya... boleh kok... kamu pengertian sama diri kamu... Istirahat. Kumpulkan energimu, baru kau tapaki lagi hari yang cerah ini"

"Siap bosku!!! eh eheheheeh..."

Kita tak pernah benar-benar tahu kita sedang membutuhkan apa. Hingga tak jarang, tubuh kitalah yang memberi kode agar diberikan kebutuhannya.

Sampai jumpa lagi... kawan♡

Maria Ulfah
Seorang pembelajar sepanjang hayat yang menyukai Psikologi, Motivasi, dan Pengembangan Diri, juga sering bergelut dengan 'Hati'.

Related Posts

2 komentar

  1. Hayoo, udah minta maaf belum sama mereka?

    Udah sempat masuk di bank temaku ini, walau rencana beda sudut pandang sih.

    Anyway, keren ternyata udah dieksekusi duluan sama kamu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahah lebih dari kata maaf, kebutuhan mereka telah kupenuhi hihi

      Waaa iya kah? Malah inimah dadakan lho. Oke... berbeda sudut pandang yaaa? Jadi penasaran~

      Ahahah aamiin, maaf ya padahal gak berniat ngeduluin. Pokoknya semoga ada kesempatan baca tulisan Kak Teguh dengan tema ini~

      Hapus

Posting Komentar

Follow by Email