disuduthari header

Puisi Hati: Sementara, Biarkan Begini

Posting Komentar
Sementara, Biarkan Begini
(Oleh: Maria Ulfah)
 Hati teriris.
Asa terhempas habis.
Air mata tak bisa ditepis.

Saat sesuatu sedari awal telah digadang-gadang akan hadir dengan balutan kegembiraan akhirnya lenyap tiba-tiba, bagaimana mungkin semuanya bisa dikatakan baik-baik saja?!

Pikiran semrawut.
Pun hati, demikian kusut.

Cukup...
Cukup...
Tak perlu berkata jangan menangis atau jangan bersedih!
Tak perlu menghiburku dengan candaan yang bahkan tak bisa membuatku tersenyum sedikitpun!

Saat ini, jangankan untuk tersenyum, menangani ketidakstabilan diri ini saja, susahnya minta ampun.

Aku kecewa...
Aku sudah memikirkannya sedari awal. Segala cara telah kulakukan untuk menjaga hal ini tetap ada disini dan walaupun sementara pergi akhirnya ia kembali dan bisa dimiliki....

Tapi tidak.
Semuanya tak sesuai ekspektasi
dan hal inilah yang membuatku belum bisa menahan pilu yang terjebak dalam ambisi...

Aku tahu semua ini bukan salahmu, salah dia, atau salahku... semuanya memang takdir yang tak bisa diganggu gugat.

Tapi kumohon... biarkan aku meluapkan ketidakenakan ini... biarkan aku puas dengan tangisanku sendiri hingga akhirnya tangisan inipun yang menjadi obat pemulih alami....

Maria Ulfah
Seorang partner belajar dan bloger. Sangat menyukai psikologi, motivasi, & pengembangan diri, juga sering bergelut dengan hati. Baru-baru ini menjadi kontributor antologi cerpen "Mengeja Patah, Merangkai Hati."

Related Posts

Posting Komentar