disuduthari header

Terpisah Bukan Berpisah

16 komentar



Kala itu kuberkata, "kita terpisah bukan berpisah." Terpisah adalah sesuatu yang menjadi ketetapan, sementara berpisah adalah sebuah pilihan. Dan aku tak mau memilih itu.

Berbicara tentang kita, sama halnya berbicara jarak. Jujur saja, terkadang aku pun dilemahkan olehnya. Tapi tenang, seperti katamu, "akankah kalah dengan jarak?" Tentu aku tak mau kalah. Memang sesekali dipaksa menepi, tapi tidak untuk berhenti.

Di hari-hari yang cukup sulit, jarak semakin memperlihatkan taringnya. Ditambah lagi, jika situasi dan kondisi sedang tak bersahabat. "Ah, ingin kuhapus saja jarak ini jika bisa!"

Namun, aku tetap bersyukur. Jarak hanya berlaku pada raga kita, bukan rasa kita. Percayalah, "aku bisa menahan tatkala raga kita berjauhan, tapi saat kedekatan emosional merenggang? Ini yang paling menggusarkan."

Seperti yang kita ketahui bersama, adanya jarak menghadirkan rasa rindu luar biasa. "Kata orang rindu itu indah, namun bagiku ini menyiksa..." sepenggal lirik lagu yang terngiang-ngiang saat di titik ini. Lirik lagu yang kusuka, karena berhasil mewakili.

Berbicara tentang perasaan tentu tak ada habisnya. Namun, lebih dari itu, kita telah banyak melewati suka dukanya hari. Banyak pula pembelajaran yang menghampiri. Terutama untukku. 

Terkadang, pembenahan dan kesadaran yang betul perlu diperbaharui. Maka konflik nyatanya berperan di sini. Per tiga bulan sekali, aku merasa tenggelam dalam keseharian, hingga kurang memperhatikan hal berharga yang mesti dijaga.

Setelah melewati hari-hari berat kemarin, aku menuliskan ini.

"Stok Hidangan di Lemari Arti"

Terlempar. Terkungkung. Terpenjara.
Terjebak. Tersandera. Terisolasi.

Duhai rasa pahit yang semakin memanis...
Perangaimu hampir lenyapkan asa. Gonjlokan yang kau antar pernah membuat atap ketenangan runtuh seketika.

Sudahlah! Itu pada awalnya. Karena berkat tamparanmu, diri merangkak, tertatih, dan menguat di sekeliling reruntuhan ketidakpastian. Bergelayut pula keraguan yang siap menggerogoti. Ah, kini senyum kuundang kembali.

Jujur, terkadang kita butuh kau hibur. Ya, meski hiburanmu membuat dominasi kami kabur. Sungguh, kau arif. Membiarkan kami sakit, untuk mengerti bagaimana cara mengobati. Untuk tahu, obat apa yang paling tepat diminum di titik ini.

Indah. Kau indah mempesona...
Meski sempat menipu mata, tapi saat 'mata' disandingkan dengan 'hati,' sinarmu kalahkan cahaya mentari.

Sekarang, kau masuk daftar tamu istimewa. Boleh saja pulang, tapi sebelum kau berkunjung lagi, percayalah! sudah kusiapkan stok hidangan favoritmu di lemari arti.

"Bagaimana?" Hmm, dari apa yang terjadi kemarin, aku memetik pembelajaran bahwa "Apapun yang kita lakukan berpengaruh besar pada orang di sekeliling kita dan diri kita sendiri, yaa dunia kita, maka harus lebih bijak lagi saat melakukan sesuatu."

Sungguh, aku tak kuasa tatkala melihat diriku yang kemarin. Tapi, kesalahan di masa lalu bukan nilai permanen atas diri kita kan? Yang lebih penting adalah 'kesadaran'. Oh iya, guruku pernah berkata, "jangan putus asa dari rahmat Allah."

Manusia yang paling baik bukanlah mereka yang tak pernah melakukan kesalahan, tetapi mereka yang melakukan kesalahan lalu bertaubat lagi. Melakukan salah, dan bertaubat lagi. Begitupun dengan hubungan antar manusia, kesalahan perlu ada untuk memerlihatkan sisi lain dari diri yang masih belepotan. Dan saat kita tahu, maka memperbaiki dan meluruskan lagi, adalah kuncinya.

Aku sering gusar tatkala ada hal yang terjadi di antara kita. Tapi tak lama dari itu aku mengerti, mungkin ini kode untukku berbenah lagi.



Oh iya, terlalu banyak yang kusinggung ya? Balik lagi ke inti.

Tenggelam dalam mimpi di siang hari bukanlah hal yang baik. Meski nyatanya jarak ini ada, tapi kita berada di atas bumi yang sama. Karena rindu takkan bisa hilang tanpa temu, maka tak ada salahnya berusaha untuk itu.

Pertemuan adalah barang langka di antara kita. Di sisi lain, ia pun menjadi hal sakral yang membuat jantung berdetak lebih kencang. Ada kekhawatiran, ada harapan, ada tantangan. Ya, begitulah. Semoga apapun hasilnya itulah yang terbaik.

Mengapa pertemuan begitu penting? Salah satunya karena ini.


"Nyatanya, hal manis yang pernah terjadi tak hanya menjadi kenang. Namun, di keadaan tertentu meminta diulang." 

Sadar nggak sih? Mengapa rindu itu ada? Ya, karena ada sebuah memori yang begitu manis. Tatkala keadaan tertentu kembali datang, maka untuk merasakannya lagi kita dituntun tubuh ini tuk menemui seseorang yang mengukirnya. Menjadi candu ya?

Ada banyak part dalam dirimu yang tak kutemui dari sosok yang lain. Sesuatu yang kusuka, sesuatu yang membuatku nyaman. 

Dirimu bukan hanya sekedar kenalan, tapi sudah bagian dari hidupku. Bahkan duniaku. Ya, berlebihan memang tak dibenarkan, sesekali aku melakukan hal yang tak dibenarkan ini. Ini bukan salahmu, ini salahku.

Apa yang disebut saudara? Apakah yang sedarah? Apa yang paling penting adalah itu? Bagiku tidak, yang paling penting adalah kesehatian. Dan itu, ada di antara kita. 

Tapi, tak etis rasanya, jika hubungan apapun namanya, yang dibicarakan hanya feel. Maka, aku mulai menikmati setiap proses dan lika-liku yang ada di dalamnya. Tak ada benar-benar sama di dunia ini, dam ketidaksamaan itulah yang menjadi bahan pembelajaran.

Sayang? Tahu nggak arti kata ini. Ah, akupun tak terlalu mengerti. Namun, aku banyak belajar dari serentetan perjalanan ini. "Seseorang yang benar-benar sayang ya harus menerima semuanya, karena itu satu kesatuan yg utuh." Bukan hanya kelebihan, tapi juga kekurangan.

Aku sangat hafal betul, bagaimana rasanya saat orang mendekat hanya karena kelebihan kita.Banyak sekali bertemu orang yang seperti ini. Tapi, mereka yang bisa menerima kekurangan yang ada dalam diri, ini yang istimewa.

Tahu sisi rapuh? Di sinilah ketulusan seseorang diuji. Mereka yang benar-benar tulus bukan hanya butuh, akan tetap ada di titik ini, entah ada secara langsung, mapun dukungan emosionalnya. Entah melakukannya dengan sempurna, atau baru berusaha.

Hmm, ada banyak hal pula yang menjadi faktor mengapa seseprang pergi saat sisi rapuh lawan bicaranya ada. Bisa karena mereka tak peduli dan tak mau tahu, bisa karena ketidakpercayaan diri yang tengah menghatui orang itu. 

Namun percayalah, mereka yang benar-benar sayang, akan sangat menyesal tatkala mereka sadar. Mereka juga berusaha untuk berbenah lagi. Dan mengintrospeksi mengapa mereka melakukan yang tak elok. Ya, pada akhirnya mereka tahu harus melakukan apa ke depannya jika berhadapan dengan situasi ini.

Terima kasih ya, bagian dari mereka adalah aku. Meski hal pahit tak bisa terhapuskan, tapi hal manis masih bisa digoreskan. Ah, kau berhasil membuatku tersenyum begini.

Disamping itu, aku teringat sesuatu.


Banyak orang yang menganalogikan rumah dengan kenyamanan, ketenangan, dan sebagainya. Beberapa hari yang lalu, aku menyematkan kata rumah pada sebuah buku. Tapi, kala ini padamu.

Ya, aku pernah mendengar bahwa "seseorang yang kita cari saat kita tak baik-baik saja merupakan orang yang sangat berharga di hidup kita." Dan di kala keadaan itu, yang pertama kusebut adalah kamu.

Orang biasa yang punya kasih sayang luar biasa. Orang biasa yang tak biasa yang terbiasa berbuat baik pada sesama. Orang biasa yang banyak menginspirasi, memotivasi, mengedukasi, dan baaanyak lagi. Maka bagiku, kau bukan orang biasa.

Kau pernah berkata untuk membuat orang lain terpikat cukup "kesampingkan egomu." Sungguh, aku luluh dengan itu. Karena bukan hanya dalam kata saja, dalam perlakuan pun, itu sudah tercermin dalam dirimu. Aku belajar banyak hal. Terima kasih yaaa...

Oh iya, kembali ke pertemuan kita.


Seperti yang mereka katakan: "Ketemunya sebentar, rindunya lama." 

Begitulah adanya. Kita dan jarak yang ada mengharuskan penguasaan skill berkomunikasi tingkat tinggi. Ya, berbeda dengan bercengkerama secara langsung, yang mana kita bisa melihat ekspresi dan melakukan sentuhan nyata. Dengan via smartphone, agak sedikit berbeda. 

Tapi, aku bersyukur masih ada alat ini. Bayangkan saja, pernah suatu kali hpku eror, tak ada pulsa, tak ada kuota, dan tak ada signal, di situ teramat jelas bahwa kita begitu jauh. Yaa rabbi... walau begitu, tetap saja banyak hal tentangmu tak mau pergi.

Selamat menjalani hari-hari. Untukmu, untukku, dan untuk kita semua. Semoga Allah beri kekuatan untuk kita dalam menjalankan setiap peran dalam hidup ini dengan sebaik-baiknya.

Ingat yaa, "kita terpisah bukan berpisah."
Maria Ulfah
Seorang partner belajar dan bloger. Sangat menyukai psikologi, motivasi, & pengembangan diri, juga sering bergelut dengan hati. Baru-baru ini menjadi kontributor antologi cerpen "Mengeja Patah, Merangkai Hati."

Related Posts

16 komentar

  1. Masya Allah tulisannya. Dalem banget teh hehe.
    Jadi terhanyut 💕

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, sedalam apakah? Makasih tetehkuu ♡

      Hapus
  2. Aamiin. Semoga Allah selalu menguatkan kita dalam perjalanan hidup ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiin. Aamiin yaa Allah... makasih Kak ^^

      Hapus
  3. Wah, asik banget baccanya. Gak sadar tiba-tiba udah habis aja :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaa Allah alhamdulillah, terenyuh baca komen ini hehe ^^

      Hapus
  4. uwaaa ceritanya kak bagus, emang ya yang namanya jarak, komunikasi melalui hp saja kadang tetep mendatangkan salahpaham, tapi ya gimana huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya Kak, begitu. Menuntut komunikasi yang dewasa pula, dan lagi, arti kesabaran diuji pisan ^^

      Hapus
  5. kayaknya aku tipe yang nggak kuat harus berjarak apalagi dengan suami.hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaaa so sweet ♡♡♡ Kayanya akupun kalo udah nikahmah gak mau jauh2 hehe

      Hapus
  6. Aamiin, semoga kita senantiasa kuat menghadapi apapun :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Yaa Allah, berasa dirangkul nii ♡♡♡

      Hapus
  7. puitis banget bahasanya mba, semangat buat yang ladi LDRan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe alhamdulillah ^^ iyups, semangat... bagi yang LDRan maupun deketan :D

      Hapus

Posting Komentar