Takaran Kesempurnaan; Kata VS Nyata; Nyata VS Maya

Posting Komentar

Sumber Gambar: Pixabay
 

Kau begitu sempurna di mataku kau begitu indah. Kau membuat diriku akan selalu memujamu. Janganlah kau tinggalkan diriku. Takkan mampu menghadapi semua. Hanya bersamamu ku akan bisa. (Penggalan lirik lagu Sempurna - Andra and The Backbone)

Meski di dunia ini tak ada yang sempurna, namun di suatu bola mata ada satu sosok yang menjadi paling sempurna. 

Bukan tanpa alasan, karena tak mungkin pula yang ada di posisi itu adalah orang asing yang berpapasan di jalan. Nyatanya, ada suatu proses di baliknya.  Baik proses secara alami, maupun proses yang kita pilih sendiri. 

Lebih dari keindahan. Bersamanya kita mampu mengarungi sisi pahit dari kehidupan. Ingat, kita tak selamanya baik-baik saja, maka orang terdekat menjadi semakin bermakna manakala ia tulus hadir di tengah situasi getir.

Seperti kemarin misalnya, berkali-kali senyuman dipaksa hadir, berjuta kesempatan tawa diseret ke pinggir, tapi tak banyak yang berubah. Sampai suatu ketika, momen perlu dicari dan diciptakan sendiri.

Mengaku kalah. Menyadari "aku sedang tak baik-baik saja". Dibuat jujur dan apa adanya. Ya, ia bersedia mendengarkan, berusaha memahami, memberi penguatan, menuntun jalan keluar dari permasalahan. Sungguh, hal semacam ini tak bisa dibeli.

***

Air mata jatuh. Peluh pun luruh. Keluh tak ingin hadir. Haru lah yang menggantikan posisinya. "Terima kasih", berkali-kali kata ini yang paling mendominasi. 

Kutahu, jika ditakar pil pahit  di sekelilingku tak ada apa-apanya dengan yang di sekelilingmu. Namun, betapa hebatnya diri itu, ia mampu menyesuaikan. Ia bersedia mempermanis seseorang.

Ada banyak yang ingin kuungkapkan. Bergemuruh rasanya diri ini. Sekali lagi, aku tersadar, yang terpenting bukanlah kata. Yang harus difokuskan adalah 'nyata'. 

Tunggu... mari tetap menuju versi terbaik dari diri kita, lalu bertemu mengukir banyak makna. Kemudian, merangkul lebih banyak orang.

Ketahuilah... Kau inspirasi terbesarku. Jangan cemburu tatkala tulisan ini bukan tertuju 'hanya' padamu. Karena di setiap ucapanku, tingkahku, dan tulisanku selalu ada 'kamu' yang menjadi bumbu spesial dalam menghadirkan nyawa - makna.

Kita bergerak untuk hal yang sama. Meski caranya berbeda. Kau merangkul banyak orang, menguatkan, menghebatkan banyak orang dengan aksi di panggung nyata. Dan aku masih belajar untuk itu, serta di panggung maya, aku tengah melakukannya.

Dengarlah...

Padamu, kumelemah

Denganmu, kuenyahkan kata menyerah

 

Maria Ulfah
Seorang pembelajar sepanjang hayat yang menyukai Psikologi, Motivasi, dan Pengembangan Diri, juga sering bergelut dengan 'Hati'.

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email