disuduthari header

Tak Kuterima Rayuan Hujan

2 komentar

Tak Kuterima Rayuan Hujan

Ini aku, bukan saya.

Ini masih tentang kita, bukan hal asing yang baru dicoba.


Tenang saja, kali ini aku takkan menyalahkan diri sendiri. Kutahu, kamu tak suka aku yang begitu. 


Di luar, hujan turun tiba-tiba, ia merayuku untuk ikut menari bersamanya. Bersama rintik yang yang semakin menjerit, bersama suara gaduh yang semakin bergemuruh. 


Hampir saja aku terayu, sebelum akhirnya  kusadari, ini bukan kisah dramatis yang didominasi sedih.


Aku berterima kasih padanya yang ada saat ku tak kuasa. Aku berterima kasih karena sebagian dirimu yang kurang sinkron denganku, bertemu tempat yang tepat. Aku berterima kasih karena kau masih terbuka menceritakan banyak hal, karena itu pertanda kedekatan di matamu. Kau tak berubah. Aku kagum atas hal itu.


Dengarlah, ternyata aku pun belum banyak berubah. Aku ingin sekali, bahkan lebih dari ingin. Namun, nyatanya ada sisi di dalam sana, yang semakin lama semakin mencari perhatian. Ingin ditunjukkan, ingin diperlihatkan. Hal yang kurasa sebagai candaan, akhirnya ia meluap tanpa batasan.


Maafkan aku, yang telah memperdengarkan sesuatu yang kurang kau suka.

Maafkan aku, yang belum fasih memilah seperti apa situasinya.


Kau dalam masa pemulihan, dan rasaku malah berterus terang. Aku benci aku yang begini. Tapi tetap saja, ia masih bagian dalam diri yang jadi PR untuk terus diperbaiki.


"Kau baik-baik saja?" Kuharap begitu

"Tunggu sekejap yaa, semuanya baik-baik saja"

Maria Ulfah
Seorang partner belajar dan bloger. Sangat menyukai psikologi, motivasi, & pengembangan diri, juga sering bergelut dengan hati. Baru-baru ini menjadi kontributor antologi cerpen "Mengeja Patah, Merangkai Hati."

Related Posts

2 komentar

Posting Komentar