disuduthari header

Perihal Pulang Sebelum Berpulang

Posting Komentar

sumber gambar: pixabay.com

Senja hampir datang, tapi sebagian diri masih saja belum pulang. Kuketuk-ketuk, kupanggil-panggil, kubisikan rayuan, tapi bukan itu cara yang membuatnya tenang.


Layu. Sendu.


Hari berjalan panjang sekali. Setiap detiknya bak bertambah berkali-kali. Telah banyak hal yang coba dijalani, tapi sepertinya perlu sedikit lagi ke tepi.


Semua ada momennya. Meski tak ingin merasakan, kita tetap dipertemukan. 


Down. Up.


Begitulah kehidupan. Apapun keadaannya, senyum masih bisa ditata.  Semua tentang pilihan, untuk larut atau memecahkan kebekuan. 


Rasakan dinginnya terlebih dahulu. Biarkan semuanya mengalir ke urat nadimu. 


Air mata jangan kau tahan. Ia salah satu obat yang melegakan. Ambil setiap makna. Bersimpuh pada yang Kuasa. 


Wahai diri...

Segeralah pulang. Kau perlu siapkan bekal, sebelum berpulang.

Maria Ulfah
Seorang partner belajar dan bloger. Sangat menyukai psikologi, motivasi, & pengembangan diri, juga sering bergelut dengan hati. Baru-baru ini menjadi kontributor antologi cerpen "Mengeja Patah, Merangkai Hati."

Related Posts

Posting Komentar