Beda -- Hujan, Senja, dan Kopi

2 komentar
foto-hujan-senja-dan-kopi
        sumber gambar: riwayatgallerry.blogspot.com       
   
                             Di sini, kita berbeda.
                     Saat ini, inilah yang kita rasa.


Hujan bagimu ketenangan. Ia memperlambat laju. Ia menyeret makhluk bumi ke rumahnya dulu. Di setiap rintiknya, kenangan demi kenangan berdatangan. Di situasi itu pula, makna pertemuan lebih terasa.


Sementara bagiku, hujan tak lebih dari sekadar pembawa dingin. Langit menggelap. Ada bagian yang ikut kalap. Di setiap tetes yang turun, bak tangisan meraung.


Senja favoritmu. Warna-warni yang yang tersuguh, mampu membuatmu luluh. Redupnya mampu mencuri perhatianmu. Perasaan menggebu itu, tergambar jelas dari nada suara yang tak pernah jatuh. Meski sekejap, kau tak pernah lelah menemuinya.


Untukku, senja terlalu jahat. Ia indah, tapi terburu-buru lewat. Sesekali kuberpapasan dengannya, tak banyak yang yang kutangkap, selain transisi menuju hari yang kian gelap. 


Kamu suka kopi. Tonjokan kafeinnya yang paling kamu minati. Menjadi amunisi. Menjadi sesuatu yang paling kamu cari. Walau ada masalah dengannya, kau mencari segenap cara tuk menikmatinya. Tak bisa berhenti. Terlalu kuat kesan yang ia beri.


Sementara bagiku, kopi dan segala hal tentangnya tak berbekas banyak. Hanya satu, mual rasanya menyuruput ia menari-nari dalam cangkir, walau banyak orang yang mengelu-elukannya sebagai teman berpikir.

Maria Ulfah
Seorang pembelajar sepanjang hayat yang menyukai Psikologi, Motivasi, dan Pengembangan Diri, juga sering bergelut dengan 'Hati'.

Related Posts

2 komentar


  1. Tulisan ini bagus sekali mbaak. Sukaaaaa😍😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamin. Makasih Kakak.. heuheu kemaren jadi bintang yaa ☆☆☆

      Hapus

Posting Komentar

Follow by Email